Tanya Jawab Spontan

ubit

Muhammad Ruzbi

Salah satu teman Facebook saya, fotografer andal, Savitry “Icha” Khairunnisa mengajak saya berbagi tanya jawab spontan dengan anak. Saya salin-rekat pertanyaan dari dinding FB Icha, dan ini dia hasil “wawancara” saya dan Ubit (12).

*********

WITHOUT prompting, ask your child these questions and write EXACTLY what they say.

What is something I say a lot?
Thanks and I love you

What makes me happy?
When I always say thank you

What makes me sad?
When I do something wrong

How tall am I?
Average

What’s my favorite thing to do?
Writing

What is my favorite food?
Everything that makes you loose your weight (Emak tutup muka sambil ngakak)

What is my favorite drink?
Tomato juice

If I could go anywhere, where would it be?
(He answer promptly but I don’t want to tell you, haha)

Do you think you could live without me?
Yes, I think (Emak patah hati, hiks)

How do you annoy me?
When I do something wrong

 What is my favorite movie?
I don’t really know

What is my favorite song?
I don’t really know

 What is my favourite TV show?
Do you even watch TV?

 What is my job?

Writer

 How old am I?
22 haha (Emak ngakak lagi)

What’s my favorite colour?
I don’t know. You wear almost all colours

 How much do you love me?
I love you very much

Copy, paste and change my answers and see what your child says!
You will be surprised how much your kids pay attention to you!

 

*********

Nah, mau coba juga?

Terima kasih, Icha 😉

 

 

 

 

Game yang baik?

Di rumah saya, Jumat adalah hari mulia. Menu istimewa tersaji di meja makan, buah dan kue enak tersedia. Hari Jumat juga hari ibadah. Diharapkan anggota keluarga lebih banyak baca wirid dan Alquran, lebih seru meramaikan majelis ilmu, dan lebih khusyuk baca buku.

Hari Jumat pun jadi hari menahan diri dari kesenangan duniawi.  Artinya, anak-anak dikondisikan untuk tidak menyentuh game dan film-film yang bersifat hiburan. Jika sedang di rumah, Bapak berhenti nonton streaming movie. Ibu tidak nonton konser-konser musik, apalagi konsernya Josh Groban dan Il Volo :-p

Kami menyebutnya jeda, pause.

Berhenti bersenang-senang sehari dalam seminggu seharusnya sip-sip saja.

Itu harapan.

Kenyataannya, di antara kegiatan hiburan—terutama hiburan digital—yang sehari-hari menemani anak-anak, mengajak mereka berhenti main game bisa jadi tantangan besar. Di saat yang sama, anak-anak tak kurang akal agar tetap bisa berdekatan dengan komputer walau di hari Jumat. Salah satu cara ngeles mereka adalah belajar. Anak bungsu saya punya situs game interaktif yang jadi tempat dia “belajar” di hari Jumat, eheheh.

Jumat lalu, saya dan Luthfa—Upeng (8) cari-cari game yang bisa dimainkan di hari Jumat. Saya ajak dia cari game buatan Indonesia dulu. Dukung produk sendiri, dong!

Eh, ternyata banyak juga pilihannya.

Di urutan pertama pencarian ada Petualangan Boci. Kata petualangan rupanya menarik perhatiannya. Baiklah, mari kita cek, apa isinya.

Begitu di-klik, warna hijau cerah langsung menyambut kami.

Upeng mendekat dan bertanya, “Apa itu, Bu?”

“Ibu juga belum tahu. Ayo kita lihat bareng.”

Saya buka bagian “about” dan senang menemukan game yang menyertakan keterangan tentang peran orang tua. Semangat untuk menciptakan aplikasi yang bisa mendekatkan anak dan orang tua patut diberi bintang. Menu yang ditawarkan juga menarik: belajar menulis, belajar membaca, belajar berhitung, mewarnai, hingga teka-teki.

Anak-anak bisa terpancing untuk bertanya dan orang tua jadi punya bahan untuk memberikan penjelasan lebih luas.

Jadi, ketika anak main game, sebaiknya ibunya jangan sibuk chatting di grup melulu #sayaitusih. Sesekali libatkan diri dengan mereka, walau Anda serumpun dengan saya: bukan gamer.

Eh, saya kasih resep sedikit. Saya menuliskannya di buku “Parenting with Heart”.

Ketika anak main game, jangan pernah coba-coba jadi saingan. Bagi mereka, game yang sedang dimainkan adalah segalanya. Jangan mengecam game-nya, karena Anda akan dikecam pemainnya ahaha. Arahkan saja ke hal yang lebih produktif, misalnya ajak ngobrol tentang isinya (sebenarnya saya mau nulis “konten” tapi sayang kata itu belum masuk KBBI), siapa perancangnya, sampai jenis musik apa yang digunakannya.

Biasanya, ketika diajak ngobrol tentang hal yang berkaitan dengan game kesukaannya, dia akan lebih fokus kepada Anda. Di saat itulah, Anda boleh memintanya mandi, karena memang sudah sore, heheh.

Nah, mulai ke mana-mana.

Kembali ke Upeng yang sedang cari teman belajar.

Ketika dia ngoprek menunya, saya ngoprek informasi yang lain. Maklum, emak-emak kepo 😀

Saya cek nama-nama yang berperan menghadirkan Si Boci alias Bunglon Cilik ini. Di antara jenis pekerjaan yang lain, mengapa mereka memilih menciptakan game untuk anak. Tentu kita juga tahu, persaingan dunia ­game bukan hanya ketat tapi juga … (nggak tega, ah, nulisnya).

Sama-sama bisa bikin game, memilih muatan pendidikan adalah pilihan hebat. Padahal kan bikin game bermuatan perjudian bisa mendatangkan duit lebih banyak. Game yang nyerempet pornografi dan kekerasan juga lebih laku. Itu kabar yang saya dapat dari teman-teman di Next Generation yang aktif memantau muatan game, khususnya yang dimainkan anak-anak Indonesia.

Karena itu, sambil membaca jajaran nama para pencipta Petualangan Boci, saya bergumam, “Terima kasih. Semoga kalian tetap memberikan karya terbaik untuk anak-anak Indonesia, karya yang penuh berkah melimpah.”

Semoga kian banyak kreator game yang bersedia melakukan gerakan pendidikan. Setidaknya, ibuk-ibuk seperti saya yang tidak paham game ini bisa tenang sedikit. Iya, sedikit juga sangat berarti.

Sudah, ah, nanti jadi panjang lagi.

 

 

SURAT PERTAMA

nursebuddy.co

nursebuddy.co

Bandung, 18 Desember 2012

Widia,

Apa kabar?

Ini hari Selasa. Aku 88% yakin, kamu sedang setrika sambil nonton drama Korea. Yang 12% itu aku ragu, apakah sekarang kamu sedang nonton sambil nangis-nangis juga, haha.

Surat ini kutulis di kantor, saat istirahat siang yang panjang. Ada kepala divisi yang baru pulang umroh dan bikin syukuran di kantin. Tapi aku milih sembunyi di sini karena selera makanku sedang hilang sama sekali. Aroma hidangan prasmanan yang biasanya mengundang selera justru membuatku pusing. Orang lalu lalang membawa nampan kian membuatku pingin cepat pulang. Beneran, deh, mending makan telur ceplok buatanmu.

Widia,

Setiap hari aku berkubang dengan tulisan, berenang di antara artikel dan reportase. Aku biasa menghasilkan 300 kata setiap 15 menit tanpa salah ketik tanpa salah tata bahasa—kamu pernah menghitungnya dengan stop watch. Ingat, kan?

Tapi sekarang, aku bingung mau nulis apa, kagok mau mulai dari mana. Lebih tepatnya, sebenarnya aku malu sendiri. Kamu tahu, surat-suratan kan nggak kita banget.

Kemarin aku mencoba merekam suaraku, tapi hasilnya hancur memalukan, hehe …

Jadi, sudahlah. Kembali ke rencana semula: surat ini.

Widia,

Ingat pertemuan pertama kita?

Malam di Aula Barat, kamu sedang mempersiapkan sebuah seminar bahasa. Saat itu aku lewat tanpa sengaja. Baru belakangan aku sadar bahwa tak ada yang namanya peristiwa “tanpa sengaja”. Semua punya tujuan jelas, semua sudah diatur untuk kita, bahwa aku harus lewat sana. Bukan kebetulan jika aku melihatmu sedang berdiri penuh percaya diri bawah pijar lampu. Tanganmu melambai-lambai memberi instruksi pada anak buahmu yang sedang menata dekorasi. Persis konduktor yang sedang mengorkestrasi lagu. Detik itu aku terpaku, dan sesudahnya kamu tahu, aku tak pernah lagi melepaskanmu.

Widia,

Ingat masa perkenalan kita?

Aku hadir di seminar bahasamu itu. Setelah acara usai, ketika wartawan lain memburu sang pembicara, aku memburumu. Aku bertanya ini itu, dari konsep acara sampai hobimu. Haha, saat itu juga kamu curiga. Ini wartawan atau apa? Tanya-tanya hobi segala.

Sejak itu, aku selalu cari cara untuk menemuimu: mengundangmu ke berbagai acara diskusi, mendatangi tempatmu mengajar, termasuk mengirim pulsa agar kamu tak ada alasan habis pulsa untuk membalas SMS-ku, hehe. Selama dua bulan itu, aku tak berhasil mengajakmu keluar berdua, bahkan sekadar untuk makan siang. Aku harus puas berbincang denganmu di antara orang seliweran, atau menatapmu yang (pura-pura) sibuk membaca di perpustakaan. Ngaku, deh, kamu sering pura-pura baca, kan, waktu itu?

Widia, kamu ingat pernikahan kita?

Aku nekat bertamu ke rumahmu. Kamu kaget dan gugup, sampai lupa bertanya dari mana aku dapat alamatmu. Kunjungan singkat itu membawa misi tunggal, misi berani malu: melamarmu.

Ayahmu menatapmu heran, dan kamu hanya angkat bahu. Rupanya namaku tak pernah sekali pun kau sebut di rumahmu. Padahal, namamu sudah jadi wiridku saat aku menelepon ibuku di Palangkaraya. Sampai ponakanku yang masih balita saja tahu, siapa itu Widia.

Bukan masalah.

Kunjungan pertama itu berbuah kunjungan kedua, lengkap bersama keluarga. Pernikahan kita berjalan tanpa kendala, tanpa romantisme mainstream mendahuluinya, tanpa ucapan cinta, tanpa coklat tanpa bunga.

Karena itu, aku ingin membayarnya sekarang.

Seribu satu kali sehari akan kukatakan, “aku cinta padamu”, sampai kamu bosan mendengarnya. Tapi kamu sudah tak suka coklat, takut gendut, katamu. Kamu juga tak pernah suka bunga, malas ngurusnya. Tapi kamu selalu suka durian, kan? Kuputuskan untuk lebih sering bawa es duren gula merah untukmu.

Berkali-kali kali kamu bilang, “Jangan es duren melulu, dong, Mas. Jadi buyar dietku!”

Tapi toh kamu selalu menyantapnya dengan suka cita. Diet bisa diatur, katamu.

Widia,

Kamu ingat kehamilanmu yang pertama, kedua, dan ketiga?

Empat bulan setelah kita menikah, kamu hamil anak pertama. Tak seperti umumnya perempuan yang hamil muda, kamu melewatinya dengan santai saja. Kamu tetap giat bekerja, banyak makan, banyak bicara. Tidak ada ngidam yang aneh-aneh, tidak ada keluhan yang berarti. Aku bahkan sering lupa kalau kamu sedang hamil.

Tapi …

Bertahun kemudian aku baru sadar, aku tak pernah sekali pun mengantarmu ke dokter kandungan. Aku tak ingat berapa bulan usia calon bayi kita, dan kapan dia akan lahir. Aku baru paham bahwa kehamilan bisa sangat merepotkan ketika beberapa temanku sering izin tidak masuk kantor karena istrinya hamil. Berkat kebaikanmu, aku tak pernah merasa repot.

Entah karena kamu yang baik, atau karena aku yang kelewat cuek.

Maafkan aku.

Sampai anak ketiga, aku hanya datang ke bidan beberapa jam sebelum kamu mau melahirkan. Dan setelah itu, aku tak pernah tahu betapa repotnya kamu mengurus bayi kita, balita kita, anak kita … sampai sekarang pun aku tak merasa ikut repot. Aku tidak pernah kena ompol. Semua bayi selalu mendarat di pangkuanku dalam keadaan wangi. Semua berkat kebaikanmu.

Entah karena kamu yang baik, atau karena aku yang kelewat cuek.

Maafkan aku.

Belakangan aku tahu, bahwa anak-anak itu bisa sakit, bisa rewel, dan bisa jadi sangat menyebalkan. Aku tidak pernah tahu kerepotanmu. Anak-anak selalu baik ketika aku pulang kantor.

Widia,

Kamu ingat ketika aku kena PHK?

Aku tak ingat kamu pernah mengeluh kekurangan. Aku hanya sekali pernah melihatmu menangis diam-diam di dapur, sambil memandangi kulkas kosong. Setelah itu, aku jadi sering mengintai kamu, untuk memastikan apakah kamu menangis lagi hari itu.

Sungguh, tidak pernah kulihat kamu menangis lagi setelah itu. Entah karena kamu hanya menangis di kamar mandi, atau memang kamu hanya ingin memperlihatkan senyum untukku.

Aku baru tahu belasan tahun kemudian, saat kamu cerita sambil tertawa.

Kamu dan anak-anak pernah makan hanya dengan kecap. Kamu pernah ke warung dan hanya bisa beli beras sekilo, kamu pernah hanya pegang uang tiga ratus perak. Kamu pernah jalan kaki dua kilometer sambil menggendong Fani ke sekolahnya, sementara kamu hamil tua. Kamu lakukan itu demi menghemat ongkos ojek yang mendadak terasa sangat mahal. Hanya kamu dan Tuhan yang tahu, bagaimana kamu bisa waras menghadapi masa itu. Aku tidak pernah berani bertanya. Aku malu.

Widia, kamu ingat ketika aku kerja di luar kota?

Aku tahu, kamu pasti semakin repot, mengurus tiga anak sendirian, dengan gajiku yang pas-pasan. Tapi ketika kutelepon, suaramu selalu nyaring dan riang. Anak-anak terdengar sehat, semua seakan baik-baik saja.

Aku baru tahu baru belasan tahun kemudian, saat Fani bercerita tanpa sengaja. Mengenang apa yang pernah disaksikannya saat masih anak-anak.

Ternyata kamu sering menerima teleponku sambil menangis, sambil terkapar kelelahan. Entah bagaimana kamu bisa menciptakan efek renyah itu dari pita suaramu, sedangkan air mata banjir di pipimu. Kamu tidak cerita kalau Mia demam sudah tiga hari dan kamu hanya mengandalkan obat warung dan kompres. Kamu tidak cerita kalau payudaramu sedang mengelupas karena menyusui. Kamu tidak pernah cerita kalau ternyata kamu mengalaminya setiap kali menyusui. Dan itu berarti tiga bayi.

Maafkan aku, Widia. Kupikir semua selalu baik-baik saja. Berkat kebaikanmu, aku hanya melihat yang baik-baik saja.

Widia,

Kini anak-anak sudah mulai mandiri.

Karena punya waktu lebih banyak untuk diri sendiri, kamu jadi uring-uringan manja saat ubanmu kian banyak. Kamu jadi sering berkaca sambil menghitung lipatan di sudut mata. Kamu tak pernah alpa menimbang badan setiap pagi, dan langsung ribut ketika jarumnya bergeser ke kanan sedikit saja. Kamu juga jadi rajin minum jamu, air perasan jerus nipis, sampai jus sayur yang baunya bikin aku ngilu. Berbagai cara kamu lakukan untuk merayuku agar ikut minum ramuan horor itu. Tak pernah berhasil, tentu.

Sementara es duren yang kubawa selalu sukses mengugurkan pantanganmu, hehe …

Widia,

Biar saja ubanmu tumbuh melebat.

Dia adalah saksi pelindung isi kepalamu yang mulia itu. Mungkin, akar rambutmu telah sampai di batas lelahnya, mendinginkan tempurung kepalamu yang sering memanas karena ulahku. Mungkin dulu kamu tak mampu beli vitamin rambut dan memilih membelikan anak-anak madu. Ah, ke mana aku saat itu? Mengapa aku sampai tak tahu?

Biar saja ubanmu tumbuh melebat.

Aku akan tetap tergoda oleh wangi rambutmu, hitam atau putih, sama saja bagiku.

Kelak jika aku lupa semuanya, aku sungguh berharap tetap mengenali aroma rambutmu.

Widia,

Jangan resah karena lipatan di sudut matamu.

Kedua mata itu adalah pelaku senyum tulus yang selalu hadir di hadapanku.

Semua orang mampu tersenyum dengan bibirnya, tapi hanya 20% yang selalu tersenyum dengan matanya. Kamu salah satu di antara yang seperlima itu.

Walau sesungguhnya, aku juga tidak tahu, berapa ribu kali mata itu basah karenaku. Karena menantiku, karena marah padaku, karena ulah anak-anak kita, karena perjuangan hidup kita, atau karena keinginanmu yang selalu saja tertunda, lagi dan lagi.

Kelak jika aku lupa semuanya, aku sungguh berharap tetap mengenali senyum di kedua sudut mata itu.

Widia,

Berhentilah gundah karena postur langsingmu tak jua kembali. Jangan tendang timbangan ke bawah ranjang setiap kali angkanya membuatmu kecewa. Bukan apa-apa. Kamu juga yang akan kesulitan mengambilnya besok pagi.

Keindahan tubuhmu mungkin memudar karena tiga kali melahirkan, belasan tahun kerja keras dan hidup sederhana, bonus kelakuanku yang pasti membuat makanmu kian berselera. Tapi tahukah kamu, Sayangku, perutmu itu bukan hanya nyaman untuk menumbuhkan bayi-bayi kita, tapi juga empuk untuk kami bersandar melepas penat. Ingatkah kamu, saat malam menjelang, selalu ada empat manusia yang berebut perutmu. Semua ingin sekadar menyentuhnya sebelum tidur. Jadi tak perlu resah dengan bonus lemak yang tersisa di sana. Asal tetap ceria, bahagia, sehat, dan setia dengan jus-jus seram itu, kamu tetap seksi. Percayalah, hanya aku yang tahu, betapa mendekapmu selalu menjadi kegiatan favoritku.

Widia,

Kemarin hasil pemeriksaan rutin sudah keluar. Aku sengaja tak mengajakmu ke rumah sakit, karena tak mau melihat alis tipismu bertaut cemas. Sudah dua tahun ini kamu selalu resah menyaksikanku mulai lupa ini dan itu. Sudah dua tahun ini kamu bersikeras selalu mengantarku ke kantor, sejak aku beberapa kali terlambat pulang karena kesasar. Aku juga tahu, kamu diam-diam menghadap atasanku agar aku tetap diberi tugas menulis walau bukan reportase langsung. Aku tahu kamu selalu membuat anak-anak kian dekat denganku, meminta mereka lebih sering pulang awal, mewajibkan mereka sering meneleponku.

Tapi Widia,

Aku juga tahu, waktunya akan datang.

Mau meledak rasanya kepalaku membayangkan aku bakal lupa siapa kamu, siapa Fani, Mia, dan Tia. Tiga putri yang lahir dari kasih sayangmu. Tiga putri yang sering kuabaikan karena aku sibuk dengan jam kerja yang tak tentu.

Belakangan aku sadar, sebenarnya “alzheimer” sudah kupelihara sejak belasan tahun yang lalu. Ketika aku mulai sering meninggalkanmu tanpa ragu, ketika aku mulai luput menghadiri ulang tahun putri-putriku, termasuk lupa mengunjungi makam ayahmu. Aku lalai menyediakan waktu untuk kalian semua, dan lebih sibuk dengan diriku. Kuabaikan permintaanmu untuk meluangkan waktu bagi kalian, kubiarkan rumah kita hidup tanpaku.

Kujawab setiap cerita dan pesan panjangmu dengan kata “OK” saja. Selalu kubalas kiriman foto-fotomu dan anak-anak dengan tanda jempol belaka. Tapi hebatnya kamu, tak bosan menghadirkan aku di tengah anak-anak, tak pernah berhenti mendesakkan diri di antara kesibukanku itu.

Ah, seandainya …

Seandainya …

Sekarang, ketika alzheimer yang sesungguhnya mendatangiku, masihkah berguna sesalku itu?

Jika bukan karena kamu yang selalu menyiramkan semangat, aku pasti sudah depresi.

Mustahil menerima kenyataan bahwa aku akan lupa semuanya, dan akhirnya mati tanpa kenal siapa-siapa, termasuk diriku sendiri.

Yang membuatku bertahan dan masih bisa tertawa hingga kini hanya kata-katamu, “Mas mungkin akan lupa kami semua. Tapi kami tak akan lupa Mas. Tenang, saja. Nanti aku akan mengajakmu kenalan, lagi dan lagi.”

Sesak dadaku mendengarnya, tapi aku harus siap menerimanya. Aku tak ingin membuatmu kehilangan tawa, karena melihatku menderita. Tawa ringanmu selalu menguapkan ketakutanku sekali waktu. Semua karena kebaikanmu, semua karena kebaikanmu.

Karena itulah surat ini harus ada, Widia.

Mulai hari ini, aku akan terus menulis surat untukmu, menulis namamu berulang-ulang, sampai aku benar-benar lupa melakukannya, sampai aku benar-benar lupa mengeja namamu, sampai aku tak kenal lagi mana itu huruf “a”.

Aku ingin memerah ingatanku habis-habisan, dan menuliskan apa yang pernah kita nikmati bersama. Dalam setiap suratku, aku akan menuliskan cintaku, menyatakan terima kasihku, menyampaikan permohonan maafku. Dalam setiap suratku akan kusertakan pelukan rinduku untuk tiga putriku. Jadi bersiaplah, kamu akan kebanjiran surat setiap hari dariku.

Dan kelak ketika aku lupa, ingatkan aku selalu, bahwa aku mencintaimu.

Prasetya Wiguna

***

Widia menerima kembali surat itu dari tangan Pras.

Lelaki itu menggeleng sedih sambil berbisik, “Aku yakin. Prasetya Wiguna sangat bahagia saat ingatnya dan saat lupanya. Masih ada surat yang lain, Mbak? Saya boleh baca?”

Widia tersenyum, “Tidak ada. Ini surat pertama, dan dia tak pernah ingat lagi untuk menulis surat yang berikutnya.”

Perempuan itu memalingkan muka, memandang dedaunan tanpa tujuan, demi menyembunyikan air mata. Dia sudah mahir melakukannya sejak bertahun yang lalu.

Ketika dia kembali menatap Pras, yang ada hanya senyuman di kedua sudut matanya.

***

Catatan: cerpen ini memenangkan juara harapan lomba menulis tentang alzheimer yang diselenggarakan oleh Ontrack Media, 2015. Ini versi asli sebelum saya pangkas karena melewati batas jumlah kata yang ditentukan panitia 😀

IMG_20150418_190005 (1)

Bahasa Ibu, Penanda Diri

kuis bahasa ibuSaya orang Jawa. Saat bertutur melalui lisan maupun tulisan, yang biasa saya gunakan adalah bahasa yang dipahami kebanyakan orang—dalam hal ini bahasa Indonesia. Bahasa Jawa saya gunakan ketika berkumpul dengan kalangan yang berbahasa ibu sama.

Namun demikian, kadang ada rasa rindu menggunakan bahasa ibu, termasuk di depan publik. Saya penasaran, apakah teman-teman Facebook saya merasakan hal yang sama.

Karena itu, Agustus 2014 yang lalu, saya iseng mengadakan kuis berbagi bahasa ibu, dengan tema “ketika anak sakit”.

Reaksi teman-teman saya beraneka. Ada yang merasa kagok karena lama tidak menulis dengan bahasa ibu, ada yang senang karena nemu tempat merindu, ada pula yang excited karena kuis ini dianggap unik bahkan ajaib. Padahal, yang dikuiskan adalah sesuatu yang sangat dekat dengan diri kita.

Di akhir kuis, saat membaca tulisan demi tulisan sambil tersenyum, saya bahagia. Berderet kosakata yang sama sekali belum pernah saya baca. Inilah kekayaan Indonesia, warisan masa silam yang wajib kita jaga.

Setelah mengundi dua pemenang dan mengirimkan hadiah buku “Parenting with Heart”, saya penuhi janji untuk menayangkan semua komentar peserta di blog, tanpa suntingan.

Teman-teman, terima kasih setulusnya.

Inilah bahasa ibu kita, penanda kedirian kita.

1. Mahbubah Kudhelor

Pas wulan Romadlon tahun wingi aku kuaget. Enak-enak buko bareng ayah mbek arek-arek lha kok onok wong tok-tok lawang. Pas dibukakno lawang tibake ustade anak lanang seng mondok. Ngabari nek anankku saiki loro ndok puskesmas. Waduh…jelas aku gupuh kabeh. Bukoku cepet-cepet tak ringkesi, aku mbek bojoku langsung ngibrit budhal nang puskesmas.

Waktu tutuk puskesmas tibakno anakku duduk loro biasa tapi mendelik gak iso kedip. Pas tak takokno, ustade yo gak sepiro ngerti polae ket mau jare gak opo-opo. Ustad yo bingung pisan polae gak eroh opo penyebape. Akhire ustad mbek ayah tak kon metu ruangan. Ndhek ruangan iku aku mbek anakku dewean, terus tak takoni anakku mbek aku nuangis. Alon-alon areke ngaku nek nang asrama anakku iku mari dirusuhi koncone. Akhire tak elus-elus sirahe, tibake arek iki duduk loro awake tapi loro sukmane. Terus geleme ngomong mek karo aku thok. Gak mbek ustad utowo karo ayah….

2. Ike Nereng

Waktu anak akui perah uha kahe ewah kat je dokter. Bihint tenyuntik. ..nangi aman temaksa. Unuk perang spate. .maka akuy kahe toga durung oge tiap nau karna musti bekamuh. Akirke akuy bujuk pajik-pajik ..”Di ..aman koy ewah sembuh gagag koy mesti muru uat dan tiro, kahe ulih main dang usik koy “. Akhir bekesah uha mikir aman kahe main rugi, karna akui meli usik isay ngga uha. Jongka uha berengkat kat je dokter. (Bahasa daerah Dayak Tunjung)

3. Kencana Dewi

Kapungkur waktos pun anak nu kahiji nembe yuswa 4 taun, sim kuring wangsul ka Tasikmalaya. Sigana pun anak teu kiat perjalanan tebih ti Balikpapan ka Tasikmalaya, margi waktos dugi di rorompok teh kalah panas nyebret bari utah uger. Aki sareng Nini na meni reuwaseun, ku sim kuring dikerok nganggo minyak telon sareng bawang beureum bari dikompres wae ku cai haneut. Abah uyut na ngiring riweuh, mung lucu na pun anak dipasihan artos. Cenah mah upami tos jagjag deui kanggo jajan sareng meser kangkalung emas Alhamdulillah, pun anak teu lami hareengna mung tilu dinten tos jagjag deui tiasa amengan ka dayeuh meser kangkalung tea.

4. Candra Nila Murti Dewojati

Dereng dangu lare jaler kula katon nglentruk. Badanipun katon ngreges lan watukipun mboten leren-leren. kula lan semah kula katon khawatir, amargi piyambakipun gadhah sakit asma. Napa ingkang dados penggalih kula lan semah dados nyoto, lare jaler kula kedah ditambani ngangge alat semprot, alhamdulillah dados longgar malih lan sakmeniko sampun saras lan wangsul malih wonten pesantren..

5. Ingelin Narsita

Rong taun kepungkur, anakku bengi jam 8 mutah-mutah. Tak cek, ora panas. Isih penasaran, tak cek meneh nganggo termometer. Suhu awakke normal. Pilek yo ora. Wektu kui anakku isih umur 2 taun.

Sakwise mutah, anakku iso dolanan meneh koyo biasane, koyo-koyo ora loro opo-opo.

Let sedelok, aku mbukak kulkas arep jupuk ngombe. Anakku mutah-mutah meneh. Aku kuatir banget bu, opo meneh duwe anak yo nembe pisan.

Tapi awakke isih biasa wae, ora panas, ora pilek ora watuk. Aku dadi tambah kuatir.

Tapi ora suwe, anakku wes dolanan meneh koyo biasane.

Setengah jam bar kui, bapakke mbukak kulkas arep dhahar duren. Anakku langsung mutah-mutah meneh.

Jebul anakku alergi ambune duren, dadi saben mambu duren langsung mutah-mutah.

Oalah, tiwas aku keweden karepe dewe, ngasi bengi-bengi telpon mertuo.

Dadi sak iki nek ono duren mesti anakku tak singkirke soko ambune ben ora mutah.

6. Sayidah Rohmah

Kula lan semah mboten nate maringi obat anak kula manawi namung summer, watuk, lan pilek supados imunitasipun saget sae. Wekdal lebaran kala wingi, Naja (1th) pilek amargi ketularan kula. Niki sampun pilek ingkang kaping tiga, sakderenge nate flu wekdal umur nem sasi, lan sedasa sasi. Biasane kula terapi uap piambak supados mboten mampet irunge. Ugi maem buah-buahan ingkang kathah vitamin C. Kinten-kinten gangsal dinten sampun sehat. Namung pilek ingkang ketiga niki alhamdulillah namung sedinten sampun mantun. Kula ingkang nulari malah taksih mbeler…

7. Mum Mukholi

Pura ibrohim, ana’ ke tellukku wettu umuru’na pitumpuleng, nakenna semmeng. Matteru uwalang parastamol, nano’ pellana. De’gaga siaga menne’, nano tona pella na. De’ na maetta pura no’ na pella na, tappa menre’ si paimeng pella na.

Pura pada yako maelo’i kejjang kejjang. Sibawa paddoangeng pappaja. Usappurukeng wae pela sampu ri tujunna sere’na. Pura yaro, u bukkakeng wajunna si bawa u tempele’i ri olina aro ku. Nulle wedding ipau sebagai pattransfer pella. Purana yaro u pinunge ccani’ anana’ sicampuru wae pella sampu lao riyalena,

alhamdulillah,, pellana no taccedde’ gangka pappa bajanna..

8. Diah Kusumastuti

Wektu kae anakku umur rong taun. Aku isih nyambut gawe pas simbok telpon. Aku dikon ndang mulih, soale anakku loro. Yo koyo biasane, simbok mesti kuwatir yen anakku loro, trus mbingungi. Lagi tekan pager simbok wes bengok-bengok,

“Yah, kae piye anakmu…. Opo muntaber, yo? Mutah-mutah wae ki, ning ngisinge kok ra mencret?”

“Wes, Mbok, tenang dhisik. Tak gowone nyang pak dokter.”

Aku sedih, tibake lorone anakku rodo tenanan. Mulih soko dokter, aku langsung ringkes-ringkes. Klambine anakkku, klambiku, sabun, sikat, odol, pokoke barang-barang nggo nginep sedino-rong dino.

“Piye, Yah? Arep nyang ndi?”

“Faiq dehidrasi, Mbok. Kudu ndang digowo nyang rumah sakit. Diopname.”

“Owalah… Opo mau jenenge? De-hi-dra-si?”

“He-eh”

9. Suci Wulandari

Sak onok e dokter nok kecamatan tau tak parani mergo pas kuwi Fiqi (8 ulan) mripate abang sak isih, njur wes pirang-pirang ndino. Salep sirup kabeh wes njajal tak ombekno tapi abange gak mendo. Ilang sedino sisok e balik neh.

Pisanan ndue anak je, dadine nek ono opo-opo mbanyak i.

Kabeh wong tak kandani. Krungu putune loro, mbah e teko nilik i.

“Ora usah digowo nok dokter. Kono celukno Pakdhe Kastari, engko disuwuk,” jare emakku.

Asline rodok ragu, bareng wes tak celuk, aku dikon nyiapno banyu sak gelas karo uyah sak sendok.

Banyu disebul-sebul, uyah e di pyurno saitik ambek lambene komat kamit. Trus tangane dicelupno saitik gae ngusapi mripate Fiqi. Bismillahirahmanirrahim…

Sisok e kok wes gak abang meneh. Aku telpon emak, tak kandani nek wes mari mripat e.

“Mulane to ngandel omongane wong tuwo, anakem kuwi ora loro, tapi sawanen. Wes sesok nek ono ngene neh ndang gage disuwukno,” emak munine.

10. Muyassaroh

Guleh andik anak omor telo tahon setenga. Nyamannah Alby. Molai bayi, tak toman obet-obet cem macem. Sampe Alby apal, mon betok cokop benyak ngenom aeng pote. Tak usa ngenom obet betok. Mon panas, baru ngenom obet panas. Alby molai omor du tahon step. Deddi ebungkoh esedia obet panas ambik obet step. Biasannah mon sakek biasa kadeng betok pilek, panassah tak sampe lebi derih 72 jem. Mon panassah Alby lebi derih kayyeh, koduh ekebeh ke dokter mon tadek de tandeh betok pilek. Takok penyakettah sarah kadeng pas Alby kenneng DBD. Ngangguy obet koduh “Rasioanal” tak olle den beden. Obet aman mon eyangguy bender.

11. Rina Susanti

Sataun kalangkung azka (5y) kena panyawat tifus jeung kedah di rawat di rumah sakit, asa nalangsa da abdi teu tiasa nagntosan di rumah sakit, kumargi keudah damel, rayina nempe umur sataun, nuju butuh perhatosan oge, janten nambah nalangsa. keudah ngabagi waktu ka kantor, di bumi sareng ka rumah sakit.

12. Sri Mulyani

Nak anakku saket, aku gak iso turu tenanglah. Dilit-dilit tangi, nyekel ndase, men pun anak-anak wes gedi.

13. Tati Nurhayati

Ieu pangalaman waktos si Cikal teu damang, kapungkur nuju yuswa sataun satengah.Panyawatna muntaber,janten kedah dirawat dirumahsakit.Harita abdi sakulawargi nembe ngalih pisan ka bandung,ngumbara nuturkeun caroge.Atuh salami punanak dirawat teh teu aya pisan nungagentenan.3 dinten 3 wengi teu tiasa istirahat pisan, pas wengi kaopat, kinten2 tabuh 4 janari, abdi kapulesan saking kucape.Hawar-hawar kakuping sora si cikal nangis,korejat abdi teh gugah, bari culang cileung, reuwas, si cikal teu aya dina kasur, singhoreng teh tos nonggeng dikolong ranjang, selang infusna copot, enggal ku abdi dipangku, diparios, bilih kumaha onam.

14. Ika Puspitasari

Wulan poso kepungkur, anakku sing nomer telu lara. Ora ngiro nek arep lara nganti tekan UGD barang. Awite, mripate anakku mbendul koyo dicokot semut, eee..lha kok suwe-suwe abuh lan mrembet dadi kebak sak mripat. Tak priksakke ning klinik 24 jam, ora saguh banjur dirujuk nyang Rumah Sakit sing luwih gedhe. Tekan Rumah Sakit, anakku langsung digowo ning UGD. Jebul anakku keno herpes tapi ning mripat. Waduh, wis entek atiku naliko weruh keadaane anakku. Bocah lagi lucu-lucune, lagi seneng-senenge dolanan kok keno molo. Sing marai tambah nggregel ning atiku, bocah cilik lara koyo ngono kok ora tahu nangis. Ora ngrepoti ayah bundane. Alhamdulillah, sak wis e berobat, anakku sehat maneh.

15. Ika Fibrianti

Wekdal kepungkur, putro kula kang nami Alka sakit paningalanipun. Mekaten cariyosipun, sonten-sonten kulo nembe mawon wangsul saking kantor, dugi griyo sampun wonten mas Alka ingkang ditenggani ramanipun, kalih2ipun saweg tilem. Pas kulo uluk “Assalamualaikum” mas Alka kaliyan ramanipun wungu. Ananging, pas kulo mirsani mas Alka, lha kok wonten rereget ing mripatipun (alias lodhok). Lha kulo kaget, saklajengipun kulo ngendikan kaliyan ramanipun, malah ramanipun ngendika, “mboten nopo-nopo, mas Alkane nggih mboten rewel, kok.”. Nanging kulo taksih penasaran, manah kulo ngendika menawi mas Alka kenging beleken. Dalunipun mripatipun dados abang, lodokipun nggih soyo kathah. Kulo langsung “curhat” kaliyan bu bidan ingkang griyanipun sisih kulo pas. Bu bidan maringi salep mata khusus bayi kangge ngobati mripatipun mas Alka. Alhamdulillah, enjinge mripatipun mas Alka sampun mantun. Mas Alka saget gegojegan malih kados biasanipun. Bibar niku, lha kok kulo kalih giliran ramanipun ingkang beleken, duh giliran..hehehe

16. Wida Waridah

Nembé pisan kajantenan kamari. Iqbal, yuswa 4 taun, harééng. Teu hariwang kawitna mah, da biasana, pami harééng kitu, kantun dibalur ku parud bonténg sareng bawang bodas. Langsung rerep biasana mah. Mung minggu kamari mah, rada reuwas. Tilu dinten harééngna teu lungsur wae. Malihan mah beuki nyebrét. Dinten katilu mah dipasihan parasetamol wéh. Tapi keukeuh, teu lungsur kénéh wae panasna téh. Atuh, dintén enjingna langsung dicandak ka dokter. Mung nyakitu téa, Iqbal rada sesah nuang landong. Tos diolo kukumaha ogé sesah pisan. Ampir-ampiran aral saleresna mah. Mung, alhamdulillah, émut kénéh kana diri. Iqbal laju diolo, diusap, ditangkeup, dicariosan, dipasihan dongéng, naon khasiatna obat kanggo nu teu damang. Alhamdulillah, ahirna mah kersa nuang landong. Ayeuna panasna tos rerep, kantun batukna.

17. Ardiana Arifuddin

Pangalamakku wettunna malasa anakku dua massamang. Yero makkunrai “Nailul Izzah” pellana alena 39.5 derajat celsius. Naerotosi buranewe :Nafis Jawwad pellana alena 38,9. De sedding wissengngi aga upegau moloi anana 2 calaleku topi. na yero pangukkuru pella e wakkatenni tuttu, napa meloka missengngi perubahanna ro. Wakketoreng ko matterrui sulla’ mata’na. Yero wettu e ambo’na engka jadwalna ceramah ki radio e. Terrimbammana’ kasi’ moloi ana’ku. tapi engka pabbaru napodang ro sappusekku. yekko mapellai gare alena anana, li jemmurengngi cempa sibawa lasuna cella li taroi cedde wai nappa lisapuang sare’na. Yekko marakko sapuassi. Yero lau pegau lettu engka ambo’na pole. Maseleng toni ambo’na engkana pole. Natappa natelpongini sibawanna ro dottoro’e ri buol, makkutana pabbura aga wedding nainung anana’e ko mapella alena. de nametta engkani smsna ro dottoro’e nakiringngenni asenna ro pabburae, nappa jokka ni kasi’ sitta ambo’na lao melli yero pabbura ero. Upinengngenni kasi’, Alhamdulillah sisenna wennini ro nonnoni pellana. Nappaka’ sedding makessing pappeneddikku. Sorona lau matinro, Tapi de lau pabelai yero pangukkuru pella ri seddeku, sibawa pabboso ceppana ro. Syukkuraka kasi’ de tona naendre pellana lettu ele. Tabe makkoniro caritaku. Tennapodo iya’ kennai yero bo’na ro.

18. Nurul Habeeba

Ancur atiku naliko sikile Azzam (3 thn) keno beling pecahan piring. getih mili terus mboten saget mampet. ora ana montor gae neng puskesmas. isone mung bengak bengok nangis bebarengan. aku banjur mlayu neng tonggo nyuwn pitulungan. Alhamdulillah, ana bapak2 liwat nggowo montor blanjur diterne teng puskesmas. aq njerit banter naliko nyekseni sikile Azzam di jahit, Astagfirullah…kabeh salahku, ibuk tledor Nak ndeleh piring beling sembarangan, “Sepurane yoo Le….”! Azzam biasa ae, mung ngrasakne larane, Azzam isih mesam mesem lan sayang maran ibune

19. Erfa Fitriana

Waktu ndok anak mi yang kecik Fayha kene demem. Ndah mbe halnye, kekau agaknye. Mi ukolah panasnye…ndek sangke sampai pulak 40 derajat lebeh, alamaakk…ndek ade kesah agek, mi bawak ke UGD. Eh sampai kat sitok kene pulak perikse darah, sian mi tengoknye bepekik nahan saket. Tak sampai hati..abes tu betunggulah mi berape jam kat ugd. Sikok dokter jage cakap hasil lab ndek ape-ape, alhamdulillah ndek ade gejale dbd. Panas dah turon siket, ndek sah dirawat lah ise balek umah jek asal ndek lupe minom ubat same aek putih yang banyak…

20. Ziya Maisa

Dadi kelingan gemien pas Alif sumeng pas ramane agi nang Semarang 3 dina. Alif umur 9 wulanan, enyong agi meteng nem wulan *kesundulen*. Ket awan ngrengek baen, ora kena disambi. Karo sapa-sapa ra gelem. Wengine karepe gendongan baen ra gelem mudun, gelem bubu tapi nek diglethakna ndadakan tangi. Disogna geongan ra gelem. Tambah wengi tambah rewel, nyonge wis ngantuk banget. Awak pegel, pundak sengkleh ra patia tek rasa. Sing paling tek rasa Alif nangis bae, menenge nek digendong. Padahal nek go nggendong wetenge lara. Melas aring bayi sing nang njero weteng, sedina keemped-emped kakange, nggo bantalan. Jel nek ana sing bisa go gentenan, kayane wetenge ra lara-lara bangetin. Tek tinggal paling nek lagi sholat, be guli nangis gawe sholate ra tenang. Pas gue rasane meh mutung temenan apamaning njaluk digendonge kudu nang mbale, mlebu kamar langsung reang. Untung adikku menggenku, kena go batir. Esuke nembe berobat dokter terus pijet. Ramane bali mari Alhamdulilah.

21. Nurhamida Dalimunte

Caritokku waktu anakku nomor tolu goarna si farhan marun diwaktu umur tolu taon, jadi kira2 opat taun nalewat. Parjolo marun milas sampe lima ari, madung mangan ubat san dokter nda adong kurangna rupana dipareso labor hasilna hona demamberdarah sampe trombositna 22 ribu, didokkon akon dirawat d rumahsakit dapot infus dohot transfusi trombosit bahatna 11 kantong. Manetek baya ilukku mangaligin tangan nameneki ditusuk jarum pareso labor 4 x sadari. Alhamdulillah dirawat 8 hari nda dong milas dohot trombositna normal mulak baru tola mulak tu bagas.

22. Reny Rachmawati

Anak kulo ingkang nomer kalih winginane bakdo sakit. biasa lare alit menawi sakit mesti rewel. ramanipun mesti nderek bingung. kulo piyambak ingkang sampun biasa panggih kaleh tiyang sakit nyobi tenang. lare niku kulo minumi obat. biasane menawi sampun ngunjuk obat panasipun mandap. ananging sak niki,sampun kulo paringi ngunjuk obat, tapi benteripun dereng mandap. Ditambah maleh larenipun mboten purun madang. saben madang nopo mawon mesti muntah. Menawi sampun kedadosan ngaten kulo kuatos menawi lare niki kirang cairan, akhiripun kulo tanglet kalih konco ingkang sampun biasa nangani lare alit menawi sakit panas kalih benter ditambah malih muntah. obat menopo ingkang leres kangge sakit kados ngoten wau. senaoso kulo sampun nganggit obat ingkang sami, nanging kulo taksih dereng pas ing manah. sak sampune dipun bejani konco, kulo lajeng tindak dateng apotik, tumbas obat ingkang di pun maksud kolo wau. alhamdulillah, sak sampunipun ngunjuk obat ingkang kulo tumbasne dateng apotik, larenipun saras, boten panas, lan boten muntah maleh.

BOSAN DIBAYAR?

Pekerjaanku adalah bermain kata. Setiap hari, deretan kata kutulis dan kubaca demi mencari dan berbagi pengetahuan, memiliki penghasilan, bahkan bersenang-senang dan narsis-narsisan*) di media sosial.

Ketika menerjemahkan buku, aku bukan hanya mengubah kalimat dari bahasa asal ke bahasa sasaran. Agar pembaca nyaman, aku juga harus menerjemahkan makna yang digagas oleh penulisnya. Saat menulis, aku berusaha agar apa yang ingin kusampaikan benar-benar dipahami sekali baca. Tak perlu membuat pembacaku membatin, “Lu mo ngomong apa, sih, Ann?”

Aku juga menyunting buku. Beberapa naskah yang sampai ke tanganku dalam kondisi bagus, hanya perlu sedikit sentuhan, sesuai keinginan penerbit. Sayang, ada pula naskah yang membuat kepala sakit dan bulu mata keriting. Masih ada penulis yang abai dengan naskahnya sendiri, dan berpikir bakal ada editor yang akan membenahinya. Ealaaah!

Jika ada waktu, aku akan membahasnya dengan sang penulis dan memintanya melakukan revisi. Jika waktuku terbatas dan revisi tak membuahkan hasil baik, aku akan langsung mengguntingnya. Dengan gunting kuku, tentunya.

Begitu pula dengan terjemahan. Beberapa karya terjemahan dan bukuku terbit dan beredar di pasar, dan aku masih harus banyak belajar. Aku terus menjaga kepekaan mengolah kata agar mengalir sesuai kaidah bahasa yang benar, sekaligus enak dibaca. Hingga kini, masih banyak kesalahan yang kulakukan, kealpaan yang kuulang.

Alhamdulillah, aku punya banyak mentor murah hati yang bersedia membimbingku, dan sebagian besar kukenal secara online. Terima kasih, terima kasih.

Aku belum lama mulai. Tak ada alasan untuk merasa bisa. Mau mengaku bisa bagaimana, artikel yang kutulis setahun lalu saja membuatku berkali-kali gigit jari. Jadi kayak gini, ya, tulisanku dulu? Aduh!

Tidak bisa dibiarkan. Kualitas tulisan, terjemahan, dan suntinganku harus baik. Aku ingin pembaca selalu senang membaca karyaku. Penerbit dan klien puas dengan hasil kerjaku. Dengan demikian, mereka akan membeli bukuku, dan terus memakai jasaku. Jelas, ini berdampak pada penghasilanku. Fyuhh … akhirnya bisa mengaku. Deepest reason-nya keluar juga.

Ini dia yang sebenarnya ingin kusampaikan. Berputar-putar dulu, karena sebenarnya aku sungkan.

Ummm …Bagaimana, ya?

Begini … kadang aku bosan bekerja.

Maksudku, bermain kata demi uang tentu menyenangkan. Tak ada pekerjaan yang lebih kuinginkan dari itu. Aku bisa bekerja di rumah, mengasuh anak-anak, tetap berkarya, dan punya penghasilan. Aku juga bersyukur bisa belajar di bidang literer yang masih dianggap prestisius oleh sebagian orang, sekaligus menjanjikan dari segi finansial. Ehm, kusebut menjanjikan karena menghasilkan buku bagus sekaligus diterima pasar bukan perkara mudah.

Hingga kini, aku masih berjuang dengan ratusan halaman naskah setiap bulan. Setiap karakter, kata, dan lembarnya bernilai rupiah.

Kian banyak pekerjaan kuselesaikan dengan baik, kian lancar penghasilan mengalir.

Namun demikian, kadang ceritanya tak seindah status Facebook yang jaim. Ketika pekerjaan masih banyak, sementara tenggat mulai mendekat. Rencana kerjaku sesekali bergeser. Kadang ada naskah yang kupikir sudah selesai, ternyata harus direvisi. Atau, ada penerbit yang mendadak minta agar pengerjaan naskah dipercepat karena suatu hal. Atau, aku memang sedang kurang bersemangat, sehingga kecepatanku menurun.

Dalam situasi seperti itu, pekerjaan yang kucintai ini rasanya melelahkan. Aku seperti pengantin baru yang sedang bertengkar. Kesal setengah mati, tapi rindu tak tertahankan. Ingin sekali baikan, tapi tak tahu harus berbuat apa. Singkat kata, aku mati gaya.

Tentu akibatnya signifikan.

Kalimatku jadi beku. Apa pun yang kutulis segera kuhapus lagi. Aku gamang saat melirik jumlah halaman yang masih harus kukerjakan. Saat mengetik, jariku sering terpeleset. Aku jadi mudah mengantuk dan lebih banyak ngemil di depan monitor. Lebih banyak mengklik Facebook dan Twitter daripada kamus online. Leherku sering pegal, kakiku mendadak gatal.

Aduh, jangan-jangan ini gejala depresi. Halah!

Berhenti?

Tak mungkin. Aku cinta bidang ini. Tapi aku capek. Siapa bilang mengerjakan sesuatu yang kita sukai itu tidak mengenal kata bosan?

Karenanya, aku mesti cari kegiatan selingan.

Apa, ya?

Arung jeram atau panjat dinding tak punya nyali. Memasak atau menjahit aku tak pintar. Ke mall aku tak suka—karena mengacam arus kas, hehe …

Akhirnya, pilihanku tetap menulis, tapi dengan tujuan dan gaya yang sama sekali berbeda. Bukan di buku harian, karena aku tetap ingin tulisanku dibaca orang lain. Lagi-lagi narsisme!

Maka mulailah aku ngeblog.

Di sana, aku bisa menulis apa pun, dengan gaya apa pun. Kadang serius, kadang sambil cengengesan. Ini yang tak bisa kulakukan ketika menyunting atau menerjemahkan naskah ilmiah.

Kuisi blog dengan ocehan, monolog, cerita sehari-hari, dan kontemplasi. Kuceritakan dunia kerjaku, sambil sesekali numpang eksis. Kupamerkan buku-bukuku—untuk promosi, dan memanjakan diri sejenak dengan satu dua pujian yang singgah di kotak komentar. Bagi penulis pemula sepertiku, apresiasi dari pembaca ternyata menghangatkan hati.

Oh, ya. Selain menulis, aku juga sesekali menjadi guru tamu. Aku senang mencoba berbagai metode mengajar yang unik, dan menuliskan pengalamanku di blog. Beberapa tulisanku mengundang pertanyaan pembaca, dan aku menjawabnya dengan senang hati.

Ada beberapa guru yang setia menunggu tulisan di blog pendidikan yang kubuat. Teman-teman juga mengaku senang membaca kisah-kisahku. Aku pun jadi punya catatan—walau tak beraturan—tentang tingkah anak-anakku, juga pandanganku tentang aneka peristiwa. Sedikit banyak, tulisan itu jadi bahan kontemplasiku.

Mendesain blog agar tampil segar, informatif, dan nyaman dibaca juga menantang. Berbekal tutorial yang bertebaran di berbagai situs, aku bisa seharian bongkar pasang widget-nya. Walau mengandalkan template gratis yang serba otomatis, begitu tampilan blog berubah sesuai pilihanku, aku merasa jadi webmaster jenius, haha ….

Berikutnya, setelah beberapa tulisan kupublikasikan, aku mulai memetik buahnya. Perasaan segar dan lega jadi lebih mudah hadir. Lambat laun aku sadar bahwa yang membuatku tersenyum bukan sekadar kebebasan menulis di blog. Aku juga merasa bahagia karena bisa berbagi.

Bekerja dan berbagi. Dibayar dan gratis. Itu bedanya.

Di awal sudah kusampaikan, bahwa aku mencintai pekerjaanku, melakukannya dengan sepenuh hati, dan menyukai bayarannya, ehm!

Setelah bertemu blog, aku punya tempat “melarikan diri” ketika sedang bosan. Selalu ada dorongan untuk tetap ringan hati menulis, walau tanpa honor. Aku punya keyakinan, kian banyak memberi, kian banyak pula yang kita miliki. Hati jadi lapang, dan energi berkaryaku selalu seimbang, antara bekerja dan berbagi.

Sungguh, rasanya nyaman sekali.

*) Catatan:

#KBBI

narsisme /nar·sis·me/ n 1 hal (keadaan) mencintai diri sendiri secara berlebihan; 2 hal (keadaan) mempunyai kecenderungan (ke inginan) seksual dng diri sendiri

narsis /nar·sis/ n 1 tumbuhan berbunga putih, krem, atau kuning, terdapat di daerah subtropis; Amarylidaceae; 2 bunga narsis

Narsis:
Suatu gaya atau sikap yang berlebihan, terlalu membanggakan diri sendiri sehingga menjadi norak
bagi orang lain (Kamus Slang Bahasa Indonesia 2012)

SALAH KAMAR

wrong windowDalam sebuah chat resmi dan santun dengan editor, nyaris setahun lalu, tapi masih bikin trauma.

Editor: “Bagaimana perkembangan naskahnya, Mbak Anna?”

Saya: “Lancar walau perlahan, Mas. Saya setor bagian tiga Senin ini. Mohon waktu, ya.”

Editor: “…”

Saya: “…”

Tiba-tiba …

Saya: “Hoi, Coy! Lihat email geura. Naskah ini bikin bulu mata kriting! Lihat, deh! &*7bge%524 #@&gmwtr#&*@ … 0(*@hFe@%!”

Layar chat hening.

Kemudian … Hah!

Saya: “Innalillahi. Maaf, Mas. Maaf banget! Itu chat dengan teman saya …”

Editor: “Hehe … Hati-hati, Mbak Anna. Hati-hati … :-)”

Glek!

Pipi dan telinga saya panas sekali. Perlu sekian menit untuk meredakannya.

Saya: “Panas di telinga saya sudah reda, Mas. Bisa kita bahas lagi rencana layout-nya?”

Editor: “Siap, Coy!”

Saya: “Plis, deh!”

Peristiwa memalukan seperti itu tak hanya terjadi sekali. Jika keledai jatuh kedua kalinya di lubang yang sama, mungkin saya ini tantenya keledai.

Bagaimana tidak. Saya pernah nyampah di dinding Facebook, padahal seharusnya omelan itu saya buang di grup tertentu. Ketika ada teman lain yang bukan anggota grup mengacungkan jempol, saya baru terjengkang sadar. Kapokmu kapan!

Pernah juga saya kirim SMS ke suami, minta izin mau pergi. Tentu dengan sapaan mesra semilebay seperti biasa. Ealah, pakai salah kirim ke guru musik anak saya. Another innalillahi.

Sudah puas menertawakan saya?

Mari kita lihat aspek bahasanya agar aib bisa jadi ilmu. Uhuk!

Bencana memalukan semacam ini lazim dikenal dengan istilah wrong window.

basically the act of sending a message accidentally to the wrong person in chat or in IM … (The Urban Dictionary).

Di dunia per-chatting-an Indonesia, kita punya frasa “salah kamar”.

Kamar adalah ruang bersekat atau bilik (KBBI)–tentu yang dimaksud adalah ruang dan sekat maya. Berdasarkan ke-sotoy-an saya, frasa ini dipilih untuk menggambarkan rasa malu dan kaget. Bayangkan jika Anda salah masuk ke kamar orang lain (dalam makna harfiah), atau kamar Anda dimasuki orang yang tidak disangka-sangka. Hayo! Pada berimajinasi apa? Hehe …

Mutiara hikmah:

You may humiliate yourself, but never pick a wrong window.

#TutupMuka

Payah!

surat luthfa

 

Nemu surat rahasia Luthfa (6 nyaris 7) ke bapaknya:

Bapa… jangan ngomong “payah” ya

soalnya ka ubit yang bikin kayak gitu

ibu juga jadi kerasukan sama ka ubit

jadi… jangan ngomong “payah”

OK?

Jawab, ya

 

Nyengir, deh.

Di rumah, kata “payah” tidak dikehendaki, tapi kadang terucap juga.

Sebenarnya, arti kamus kata ini baik-baik saja: lelah, penat, sulit, sangat berat… namun belakangan mengalami peyorasi. Kita lebih sering mendengar “payah” yang mengandung makna celaan.

Celakanya, apa yang kuajarkan di rumah sering kulanggar sendiri. Kadang tanpa sadar aku berkomentar, “Heuu, payah!” terhadap hal-hal yang tidak kusukai. Ubit (9) juga sering mengucapkannya—entah siapa merasuki siapa.  Yang jelas, kami kini jadi terdakwa.

Saat lidahku lepas kendali, Luthfa selalu menegurku, “Ibu, bilang apa tadi?”

Kujawab, “Oh, maaf. Ibu tidak sengaja.”

Tapi dasar aku, kesalahan yang sama selalu berulang. Rupanya gadis kecil itu berupaya menyelamatkan orang tuanya yang satu lagi agar tidak ikut kerasukan, maka terkirimlah surat di atas.

Saat menemukan dan membacanya aku tertawa, walau sebenarnya malu tak terkira.

Kadang anak-anak itu cerminan orang tuanya, kadang mereka sama sekali bukan bayangan.

Mereka tumbuhkan diri dengan panduan-Nya.