Membangun Kebiasaan Membaca Keluarga

parenting with heart

parenting with heart

Salam sehati, Bapak Ibu.

Ini kulwap kita yang ke-23.

Mana yang sering kita lihat sehari-hari di rumah? Anak sibuk membaca atau main komputer?

Di rumah saya, mereka lebih sering terlihat main komputer.

Penyebabnya, komputer mereka berdampingan dengan meja kerja saya.  Posisinya tetap, tak bisa dipindah-pindah. Lain halnya ketika membaca, mereka bisa ngumpet di ruang mana pun

Beberapa teman yang biasa melihat saya bawa anak-anak ke pengajian, atau seminar, atau mengajar) berkomentar, “Anak-anak Mbak Anna sukanya baca, ya? Seneng, ih! Nggak pernah main game, ya?”

Ehehe ehehe

Baik betul sangkaan mereka.

Sebenarnya anak-anak saya pun main game dan nonton film.

Mungkin bedanya, kami sepakat untuk tidak main game dan nonton di gawai yang mobile seperti hape dan tablet. Main game dan nonton hanya di komputer. Otomatis kalau sedang ikut Ibu, ya mau apa lagi selain baca? Ibu kan sedang konsentrasi, eh kadang ngerumpi juga sama ibu-ibu lain juga 😀

Menurut saya, salah satu penyebab yang mempertajam efek candu game adalah ketika alatnya bisa dibawa-bawa dengan mudah. – kita pernah bahas hal ini, kan, ya?

Lantas, sebenarnya apa yang bisa kita lakukan agar anak gemar membaca?

Saya bagikan tiga langkah sederhana yang biasa saya lakukan.

  1. Memberi teladan. Saya berusaha tertib baca buku. Ingat, walau penulis, saya tidak bisa dibilang gila baca. Biasa saja. Padahal saya tahu, modal penulis adalah membaca  #tutupmuka  Jadi saya berusaha mengkondisikan diri untuk membaca, terutama ketika sedang bersama anak-anak. Jaim dikit, gitu. Namanya juga sedang berusaha memberi teladan.
  2. Menyediakan. Kadang anak tidak suka baca karena buku yang kita sediakan tidak cocok dengan minat mereka. Di rak buku saya, hanya ada beberapa titik yang bukunya selalu berantakan. Lebih banyak rak yang bukunya rapi hingga berdebu dan dihiasi sarang laba-laba. Haish buka aib! Padahal, buku-buku yang saya belikan buat anak-anak itu bagus-bagus … errr … menurut saya. Menurut anak-anak mungkin tidak seru. Jadi, cek, tanya, diskusikan, buku-buku seperti apa yang diinginkan anak-anak.pizap.com14331490123081
  3. Menemani. Paling beruntung jika kita masih punya anak yang bisa dipangku dan dibacain buku. Anak-anak saya sudah melewati masa itu. Sekarang, saya menemani mereka membaca dengan mengajukan pertanyaan terkait buku yang mereka baca seperti, “Gimana, ceritanya? Ray itu siapa? Ini siapa? Mereka sedang apa? Apa sih bagusnya?

Salah satu problem yang sekarang saya hadapi dan saya sampaikan kepada banyak orang yang lebih tua (biar saya terkesan muda) adalah menurunnya semangat membaca ketika anak-anak mulai remaja. Sebagian besar sepakat bahwa gawai digital menjadi salah satu penyebabnya. Yahh … itu lagi, itu lagi.

Saya tidak mungkin menjauhkan anak-anak dari dunia digital, kan? Nanti ibunya gimana? Kan ibu harus jadi teladan. Nanti saya nggak bisa main Facebook dan Instagram, dong #halah!

Karenanya, untuk tetap menjaga kebiasaan baca, kami menetapkan reading time di rumah. Setelah magrib, ngaji, dan majelis ilmu, kami nangkring bareng buat baca sampai jam 8 malam. Setelah itu bebas. Kadang kami bergiliran cerita sedang baca apa, kadang juga saling membaca lantang untuk yang lain.

Apakah mudah? Umm … saya lebih suka bilang “menantang”!

Adddaa saja alasan yang muncul – namanya juga alasan, buanyak sekali. Kadang bolong kadang terlupakan. Setidaknya kami menciptakan tradisi itu dan berusaha patuh.

Melalui status FB saya pernah berbagi kisah tentang seorang kakek yang sudah susah jalan, mungkin karena usia lanjut atau stroke atau sebab lain. Dua buku tebal di tangannya membuat saya nekat bertanya, apa yang membuatnya masih suka membaca hingga usia tua. Saya juga curhat tentang menurunnya kebiasaan baca anak-anak saya yang mulai remaja.

Kakek itu berkata, “Ibunya saja jadi teladan. Limpahi anak dengan kasih sayang. Membaca itu perbuatan baik, dan perbuatan baik lahir dari kasih sayang.”

Walah! Kok saya merasa tertonjok gimanaaa, gitu.

Nah, mari kita berbagi pengalaman, apa yang Bapak Ibu lakukan di rumah untuk menumbuhkan minat baca anak-anak.

Ada ebook yang bisa diunduh gratis. Buku “Biasa Baca Sejak Balita” saya tulis beberapa tahun yang lalu, jadi abaikan jika ada yang terkesan zadul  😀

Ada petikan siaran saya tentang membangun minat baca di RRI Pro-4 Bandung.

Baca arsip tanya jawabnya di blog Suci Shofia

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Salam takzim,
Anna Farida, www.annafarida.com

Mau ikut kuliah via whatsapp (kulwap) tentang parenting dan pernikahan?

Daftarkan nomor WA Anda ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

 

Ciletuh Geopark: Nyali dan Keindahan

IMG_20160321_094257

Keragaman Bumi Ciletuh –  Jampang

Teriakan itu berawal dari sebuah buku.

 

Beberapa bulan yang lalu, bapaknya anak-anak bawa oleh-oleh buku “Keragaman Bumi Ciletuh – Jampang” karya Oman Abdurahman dan Mega Fatimah Rosana.

Dengan ukuran yang cukup besar dan tebal 170 halaman, buku ini memamerkan keindahan alam yang beragam, mulai dari bentangan sawah, air terjun, pantai, bukit yang tingggi …

Anak bungsu saya, Luthfa alias Upeng (8) paling antusias melihat halaman demi halaman.

Setiap kali melihat air terjun, komentarnya selalu sama, “Upeng belum pernah lihat air terjun asli seumur hidup.”

Waktu berlalu dan buku itu beberapa kali turun dari rak untuk dikagumi, hingga tiba kabar gembira, ada rombongan tur ke Ciletuh!

Tanpa pikir panjang, saya menyatakan ikut!

Upeng senang bukan kepalang. Ubit santai saja seperti biasa, yang penting pergi sama Ibu 😀 Si sulung sempat galau karena ada kegiatan kampus, tapi demi menemani Ibu dan adik-adik dia ikut sambil menahan serangan flu berat.

Done!

Rencana perjalanan disusun, rumah yang mau ditinggalkan pun diatur. Ali (14) dan Bapak tidak ikut, mereka harus jaga gawang sambil manyun, hehe.

Dengan ikhlas saya tinggalkan dua lelaki itu sementara, dan … let’s travel!

Ciletuh ada di kabupaten Sukabumi, tepatnya 4 jam perjalanan bermobil dari pusat kota. Sempat ciut nyali, karena kami sudah harus pakai mobil Land Rover yang duduknya menyamping. Emak-emak dan anak-anak, gitu, lho!

Tapi karena niatnya memang jalan-jalan, ya dibawa seneng saja. Beberapa kali Ubit dan Upeng ribut di jalan dan ngambek diam-diam, lalu baikan lagi, bertengkar lagi, baikan lagi, haha.

Sesekali Ubit tanya, “Kita kok on road melulu? Katanya mau off road.”

Penumpang dewasa pun saling berdiskusi, dari yang serius sampai yang pikaserieun. Prinsipnya, perjalanan itu kudu bahagia!

Alhamdulillah, rasa pegal di kaki terobati begitu kami sampai.

 

 

IMG_20160326_124825

Panenjoan – Ciletuh

PANENJOAN

Di bawah matahari yang terik, kami disambut hamparan sawah yang sangat luas, dikelilingi Lembah Ciletuh dan bukit-bukit megah yang hijau padat. Benar-benar laksana amfiteater raksasa.  Kamera hape saya yang apa adanya tak mampu menangkap semua keindahannya. Pemandangan yang aslinya hijau cerah jadi kurang cling di layar hape—ini curhat terselubung pingin kamera bagus 😛

Ubit dan Upeng dapat teman baru, Reza, dan segera main bareng. Saya pun sibuk … sibuk makan! Menunya begitu nikmat, ada ikan asin dan sambal yang bikin lupa tenggat!

 

 

IMG_20160326_144141

Curug Sodong – Ciletuh

CURUG SODONG

Air terjunnya ramah, anak-anak segera mendekat dan main air. Di sanalah ada legenda larangan membawa daun kemangi agar terhindar dari sapaan “penjaga” air terjun—saya tak mau menyebutkan namanya, takut terbawa mimpi 😀

Legenda ini menjaga budaya dan kearifan lokal yang manunggal dengan alam.

Tak terlalu lama kami di sana, namun sempat menikmati kelapa muda diiringi bebunyian unik dari kalung domba yang bebas berkeliaran merumput.

 

PUNCAK DARMA

Hati saya langsung tidak enak ketika sopir Land Rover kami bilang, “Pegangan, ya, Bu.”

This is it.

Begitu saya lihat jalan kecil menanjak dan berbatu, saya tahu, inilah saat yang tepat buat baca doa.

Dan apa yang terjadi sesudahnya tak bisa sepenuhnya diceritakan!

IMG-20160328-WA0037

Foto: Irwind

Kami diguncang dari sisi kanan kiri atas bawah. Posisi mobil bisa sangat miring, sangat menukik, dan melompat tanpa kendali, hingga saya teriak-teriak antara takut dan senang. Anak-anak juga teriak, si sulung yang semula tidur di sepanjang jalan karena flu jadi bangun dan ikut ribut. Dia lebih tenang daripada saya, tapi tetap saja ribut.

Berbagai macam doa otomatis meluncur, mungkin doa makan juga ikut saya baca saking paniknya. Pikiran lebay saya langsung bekerja, peluang antara selamat dan terjungkal dari mobil atau mobil terjungkal adalah 50:50, apalagi saya duduk di sisi paling luar.

“Ubit, we are off road now! Literally off road! Ini kan, yang Ubit mau?” teriak saya sambil terus mencengkeram tali pegangan.

Mungkin Anda pernah mual dan mabuk perjalanan karena guncangan kendaraan. Suwer! Guncangan yang ini tidak akan membuat Anda mabuk. Tidak akan sempat!

Tapi … dalam kondisi seperti itu, tetap saja kamera video saya aktif sampai Upeng dan Ubit teriak melulu, “Ibu! Jangan ngerekam wae! Bahaya!”

Tentu saya tidak akan membagikan videonya kepada Anda—teriakan saya terlalu memalukan ahahah.

Setelah kurang lebih satu jam jadi bola bekel yang sama sekali tidak lentur, sambil menyaksikan mobil lain terperosok di lumpur dan harus didorong, kami sampai di Puncak Darma.

Maha besar Allah.

Apa yang kami lihat di buku kini terbentang nyata. Teluk Ciletuh namanya.

IMG_20160326_170634

Teluk Ciletuh dilihat dari Puncak Darma

Memandang laut luas dengan gugusan pulau dari puncak bukit adalah pengalaman pertama bagi kami. Upeng memastikan bahwa benda-benda hitam di kejauhan adalah perahu, “Kan ada di buku, Bu.”

Bu Dina, teman perjalanan saya, men-zoom-nya dengan handycam, ternyata itu rombongan sarana penangkap ikan yang biasa disebut bagang oleh masyarakat setempat.

Kami tinggal di sana beberapa saat, memuaskan rasa syukur, dan melambaikan tangan pada matahari jingga bulat yang tenggelam perlahan. Sun set yang sempurna.

O owww

Tadi sempat lupa sejenak bahwa kami harus turun melewati medan yang sama, dan kali ini dalam gelap. Adrenalin kembali bangkit, rasa cemas menyelinap. Salah satu peserta tur bahkan berwudu dan menyiramkan air bekas wudunya ke mobil 😀

 

HOMESTAY

Kami istirahat di rumah penduduk. Tidak banyak yang bisa diceritakan, karena yang berputar di kepala adalah tidur … tidur … tidur …

IMG_20160327_083628

PANTAI PALANGPANG

Tak ada yang bisa menghentikan laju lari anak-anak menuju air. Saat orang-orang dewasa menghindari basah, mereka langsung nyebur. Anak-anak tahu benar bagaimana menikmati laut. Rasakan airnya, sentuh pasirnya, bermainlah di antara ombaknya.

Ubit, Upeng, dan Reza basah kuyup berlarian sambil tertawa, sementara ibu-ibu mereka menatap dari kejauhan sambil foto-foto. Lha wong main di laut kok takut basah. Sungguh ibu-ibu tak bernyali #halah.

Pantai Palangpang masih asri dan relatif bersih, pengunjungnya pun sedikit—padahal long weekend—warung juga hanya ada beberapa. Sehari sebelumnya kami menatap pantai ini dari Puncak Darma, kini bukit tinggi itu yang tampak di kejauhan. There is a subtle feeling passing by at that time.

 

CURUG CIMARINJUNG

IMG_20160327_092645

Curug Cimarinjung, foto oleh Mang Ndik

Air terjun ini membelah bukit yang sangat besar dan tinggi. Saat pertama kali memandangnya, saya hanya melongo. Mungkin lebih dari tiga detik.

Kami tiba di sana saat debit air sedang banyak sehingga percikan air terus membuat kaca mata saya basah. Debur air yang deras menghantam bebatuan menciptakan suasana hening, bikin betah berlama-lama. Berkali-kali saya mengusap wajah, semburan air yang dingin membuat saya merasa kian muda #anotherhalah

Sama dengan Pantai Palangpang, Curug Cimarinjung pun masih tergolong perawan. Jalan setapak yang harus kami tempuh untuk mencapainya masih sederhana, melewati saluran irigasi yang mengairi hamparan sawah. Yang datang pun tak banyak.

Yang juga istimewa, masyarakat setempat mematuhi benar-benar bahwa air terjun ini tak boleh dikunjungi pelancong setiap Jumat, saat yang tepat bagi alam untuk beristirahat.

 

PULANG

Sebagaimana saat datang, kami kembali menumpang bus ke Bandung. Sungguh pengalaman berharga, tak bisa dituangkan semua dalam tulisan. Upeng bilang, hadiah ulang tahunnya mau ke Ciletuh lagi. Waduh, ultahnya kan satu setengah bulan lagi!

Kepada penyelenggara dan pemandu , terima kasih. Untuk basecamp Komunitas Backpacker Sukabumi yang nyaman, terima kasih. Untuk silaturahmi penuh berkah antar peserta, terima kasih.

Izinkan saya turun panggung sebelum insiden tusuk gigi ikut eksis di blog ini 😀

 

Salam takzim,

Anna Farida

Informasi kunjungan, klik Road To Ciletuh Geopark.

Foto-foto perjalanan kami ke Ciletuh ada di sini

Cerita Ubit (11) yang melihat perjalanan ini dari sudut pandang berbeda, termasuk tentang emaknya yang narsis 😀  ada di sini

Pengasuhan Permisif

parenting with heart

parenting with heart

Salam Sehati, Bapak Ibu.
Kita masuk ke materi-14. Semoga kulwap ini memberikan manfaat bagi kita semua dalam mengelola keluarga.

Bahasan kita kali ini adalah “Permissive Parenting”.

Rumpi dulu:
Suatu siang saya mengunjungi seorang kawan. Setelah saling menanyakan kabar, masuklah kami pada topik yang sangat menarik.

Teman saya itu berkata, “Saya sebenarnya tidak suka dengan gaya pengasuhan ala Barat yang memberikan kebebasan pada anak. Yang sering saya lihat, di tempat-tempat umum, misalnya pengajian, anak-anak bebas lompat sana sini tanpa permisi, berlarian hingga mengganggu jamaah. Padahal sudah bukan balita lagi. Orang tuanya saya lihat hanya bilang ‘hati-hati’ atau memanggil mereka, ‘sini, sini’. Ya mana mau, lah, namanya juga anak-anak. Pernah juga ada yang bertamu bawa anak 8 tahunan, dan anaknya itu ngoprek segala pernik saya. Ibunya hanya komentar, ‘dia penasaran, belum pernah lihat barang seperti itu.’ Kan beda, Mbak, penasaran dan tidak sopan. Kalau di rumah orang kan harus menghargai, gitu. Ya itu tuh, hasil pendidikan sok Barat yang kebablasan.”

Setop dulu, ngadem dulu.

Gaya pengasuhan memang tidak bisa pakai teknik all size. Ada gaya yang cocok diterapkan pada satu keluarga tapi bikin berantakan jika diterapkan di keluarga lain. Saya pernah menyaksikan orang tua yang setahu saya tidak pernah melarang anak-anaknya melakukan apa pun ketika mereka masih kecil-kecil. Saya amati, sikap kanak-kanak mereka tetap hidup, tetap usil, kadang bandel juga .  Tapi secara umum, kesantunan mereka terpelihara. Mereka seperti punya alarm kapan bisa ribut dan kapan perlu anteng. Usut punya usut, orang tua tadi memang layak jadi teladan anak-anaknya. Jadi tanpa beliau banyak bicara, sejak kecil anak-anak paham mana yang baik dan tidak.

Nah!
Bagaimana dengan kita? Eh, kita? Saya aja, kali

Bisakah kita juga membiarkan saja anak-anak melakukan apa saja dan berharap mereka menemukan jalan kebaikan?

Di buku “Parenting with Heart”, ada bahasan tentang gaya pengasuhan yang diusung oleh Diana Baumrind. Salah satunya adalah permissive parenting. Secara sederhana, orang tua bergaya permisif memberikan kebebasan pada anak seluasnya dan lupa memberikan tuntunan.

Bisa jadi orang tua permisif itu merasa sangat penuh cinta, penuh dukungan, dan menjadikan anak sebagai pusat kehidupan mereka. Anak bahkan memiliki kontrol atas orang tua. Wujudnya bisa macam-macam sesuai usia, mulai dari yang sederhana: nangis sampai keinginannya terpenuhi, mengancam akan merusak barang, hingga mengancam kabur dari rumah.

Orang tua dengan gaya ini memilih tidak berkonflik dengan anak daripada bikin aturan bersama untuk disepakati. Ketika anak bikin aturan sendiri dan dilanggar, tidak ada konsekuensi. Saat aturan berhasil ditegakkan pun tidak ada apresiasi. Kadang, saat terjepit, orang tua bahkan menyogok anak agar taat pada aturannya sendiri.

Ada kecenderungan bahwa dengan membiarkan anak mengatur diri sendiri, mereka akan tumbuh mandiri. Eh, tapi tunggu dulu, yang jadi teladan dan rujukan anak-anak mengatur diri itu siapa

Benar, pengasuhan adalah proses mendampingi anak menuju dewasa, agar anak tumbuh dan berkembang sesuai dengan keunikannya masing-masing. Yang perlu kita catat adalah, pendampingan memestikan tuntunan. Anak-anak tetap mengharapkan kita hadir, memberikan panduan dan jadi panutan, karena dengan itu mereka akan merasa dicintai.

Lalu bagaimana?

  1. Tetapkan batasan, bahas dengan anak mengapa harus ada. Misalnya, anak balita seharusnya duduk tenang di kursi ketika di restoran. Dia tidak boleh berlarian karena berbahaya sekaligus tidak sopan. Anak 10 tahun seharusnya belum boleh nonton film tertentu, atau pulang ke rumah sebelum azan magrib. Batasan ini tidak bermaksud jahat, kan? Anak-anak justru memerlukannya agar merasa aman dan dicintai. Tentu kita tahu bagaimana cara yang baik untuk membahasnya dan menerapkannya. Sudah belajar materi komunikasi asertif, kan?
  2. Lihat keperluannya. Jika anak ingin berlarian ketika pertemuan keluarga sedang khusyuk, misalnya saat akad nikah atau sedang tahlilan, mungkin mereka memang sedang jenuh. Alihkan perhatiannya, penuhi keperluannya: beri dia kegiatan lain. Silakan berbagi pengalaman. Saya sih cukup memastikan anak-anak bawa buku—kadang bawa makanan kadang tidak. Setelah baca biasanya mereka tidur. Problem solved. Anak-anak saya yang lebih besar sudah pasti main hape :-p
  3. Bantu mereka. Kadang anak tidak bisa membahasakan perasaan dan lebih suka beraksi—misalnya memukul atau melempar sesuatu. Tugas pemandu tetap mengingatkan batasan dengan cara asertif, “Eit, seingat Ibu aturannya tidak pakai mukul, tidak pakai lempar barang. Lagi kesel banget, ya? Ibu bisa bantu apa?”
  4. Ummm … tar kepanjangan. Sudah dulu saja, nanti kita perdalam dengan tanya jawab bersama Bu Elia Daryati dan saya, eheheh.

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Miliki bukunya segera.

Anda bisa mendaftarkan diri ikut kuliah via Whatsapp, gratis, hanya sejam dalam seminggu.  Japri 089650416212 (Suci Shofia) via WA.

Tanya jawab heboh tentang topik ini bisa Anda simak di blog Admin Kulwap Keluarga Sehati. Klik di sini.

Aku Cemburu

 

marriageSalam Sehati, Bapak Ibu. Apa kabar? Materi ke-13, nih!

Bandung mulai dingin, anak-anak beringus, ibunya pingin berselimut terus #malahcurhat.

Ada beberapa pertanyaan yang masuk tentang cemburu. Ada dengan terus terang lantang berkata “saya cemburu” ada pula yang malu-malu mengaku.

Nah, tak ada salahnya kita definisikan bersama, apa itu cemburu, mana yang sehat mana yang tidak.

Sebelumnya, jawab dalam hati, pernahkah kita merasa terancam (entah sedikit, sepintas, atau sangat) ketika pasangan terlihat berbincang ceria dengan lawan jenis—apalagi kalau lawan jenisnya itu terlihat ceria juga? Walaupun Anda percaya tidak ada apa-apa, dan pasangan Anda pun menyatakan biasa-biasa saja, tetap saja ada alarm bunyi, nguing … nguing … Emang nyamuk?

Rasa cemburu bisa sehat bisa tidak. Cemburu yang sehat bisa jadi sarana menjaga kekuatan komitmen pernikahan.

Dalam pernikahan, menghargai perasaan pasangan adalah wajib. Memang, komunikasi yang baik, terbuka, dan jujur akan jadi modal utama untuk mengarahkan cemburu ini menjadi hal yang baik. Cemburu yang baik juga bisa menjadi peringatan awal bagi pasangan agar tidak mengalami hal yang lebih buruk.

Jadi, perhatikan naluri pasangan Anda. Istri, misalnya. Dengarkan komentar suami. Mereka tahu seperti apa lelaki yang kagum pada perempuan. Jadi ketika dia memberi isyarat bahwa sebaiknya Anda tak perlu terlalu ramah pada seseorang, sebaiknya nurut, deh.

Begitu pula dengan para suami. Ketika istri berkomentar bahwa Nona itu terlalu berani mendekatkan diri pada Anda, sebaiknya dengarkan juga. Dia juga tahu bagaimana tingkah perempuan yang kagum pada seseorang. Peringatan seperti itu penting diperhatikan, jadi Anda tak lantas menyalahkan pasangan bahwa dia cemburu buta. Cek cek dulu, benar tidak kedekatan Anda dengan lawan jenis memang perlu dikomentari ehehe.

Cemburu yang buruk jauh berbeda. Isinya adalah membanding-bandingkan diri Anda dengan orang lain dan merasa tidak layak, tidak penting, tidak sebanding, tidak pede, pokoknya merasa kesaingan dan merasa kalah duluan gitu, deh.

Dua orang yang menikah kan masing-masing bawa masa lalu. Kadang masa lalu itu tidak menyenangkan, misalnya pernah diabaikan orang tua, pernah menghadapi perceraian orang tua, pernah putus cinta berkali-kali, pernah bercerai, bahkan pernah ditipu (calon) pasangan, misalnya. Biasanya, pengalaman buruk itu ikut berperan ketika rasa cemburu muncul. Misalnya, jangan-jangan perempuan itu seperti WIL yang membuat rumah tangga orang tuaku berantakan. Atau …kok sikap istriku ke bapak itu beda. Jadi ingat mantan yang dulu juga terlalu ramah dan ninggalin aku #hadeuh. Jadi, perilaku cemburu ini ada bumbu tidak sehatnya duluan.

Nah, rasa cemburu yang tidak sehat ini biasanya berujung pada kontrol yang berlebihan pada pasangan. Senyum dikit nggak boleh, pakai baju agak rapi ditanya melulu … hape pasangan di-kepoin melulu #eh

Nah, pasangan yang dicurigai melulu dicemburui melulu bisa jadi sesak napas, dong.

Ujung-ujungnya cari hiburan, aaah — hayooo, jangan pada berimajinasi liar, ya. Maksudnya pergi jalan-jalan sama anak-anak, kok 😀

Cemburu yang buruk melibatkan rasa tidak percaya dan tuduhan tak berdasar pada pasangan. Perilaku ini bikin pasangan menjauh, kan. Ada kian merasa tidak berharga hingga frustrasi, mau bermesraan juga canggung—kan sedang cemburu dan sedang tidak pede. Akibatnya, hubungan merenggang.

Jadi perhatikan.

Jika cemburu bikin hubungan tambah hangat, berarti cemburunya sehat. Jika Anda kian merasa bersemangat untuk memupuk cinta (pakai pupuk organik biar sehat ahahah), artinya cemburu berjalan pada relnya.

Sebaliknya, ketika cemburu berdampak merusak komunikasi, merusak rasa percaya diri, dan bikin uring-uringan tak pasti … lebih baik segera perbaiki posisi.

Kata Bu Elia Daryati, cinta sejati itu memerdekakan, bukan melulu memiliki. Cinta membuat kita bisa melakukan yang terbaik bagi pasangan. Aww so sweet.

Nah, bagaimana menjaga percik cemburu agar tetap sehat?

Jika pasangan Anda cemburu:

  • Segera evaluasi diri. Siapa tahu dia membunyikan alarm yang benar.
  • Hentikan hal yang tidak disukai pasangan (misalnya diskusi dengan teman yang dicemburui itu) untuk menunjukkan bahwa Anda mendahulukan kepentingan pernikahan. Setelah masalahnya clear, baru deh diskusi lagi #eh (nunggu peserta kulwap protes) ahaha
  • Tunjukkan cinta yang lebih bahkan lebay pada pasangan. Ingat, lebay kan tanda cinta #uhuk
  • Setelah tiga hal di atas dilakukan baru deh bicara baik-baik bahwa sebenarnya Anda tidak ada apa-apa, bahwa Anda tahu batasnya, daaan sebagainya. Kebanyakan pada langsung lompat ke poin ini, nih. Langsung ngajak diskusi. Lha wong sedang cemburu, kok, diajak diskusi. Ya tambah manyun

Sekarang bagaimana jika Anda yang cemburu?

  • Cemburu adalah masalah Anda dan pasangan, atau bahkan masalah Anda sendiri, karena pasangan sih tenang-tenang saja #duh. Jadi ceritakan masalah Anda pada teman-teman yang bisa dipercaya saja. Tak perlu jadi status di media sosial.
  • Jujurlah pada diri sendiri, tanyakan sebenarnya yang menyebabkan cemburu itu apanya? Jujur, ya. Perilaku pasangan yang memang perlu diberi kartu kuning, atau Anda merasa terancam dengan kedekatannya dengan orang lain? Atau … Anda yakin tidak sedang cari perhatian pasangan, kan? Caper itu wajib, lho. Tapi cemburu buat caper … rasanya saya kurang sreg. Ini saya, lhoo.
  • Sampaikan kepada pasangan bahwa Anda cemburu. Sampaikan secara terbuka, tak perlu sindir sana sindir sini. Pasangan Anda perlu tahu mana yang Anda suka dan tidak. Eits, tapi ingat, lakukan dulu dua poin di atas
  • Berdoalah, mohonlah perlindungan untuk pernikahan yang sedang dibina. Gelombang pasti ada, pastikan Anda lihai menari bersamanya – hayyaaah.

Mulai ke mana-mana, mari kita sudahi saja.

Materi ini saya sarikan dari petuah Dr. Gary and Barb Rosberg di sebuah artikel tentang pernikahan. Tentu pandangan pribadi saya ikut nyelip sekalian nebeng rumpi, gitu 😀

Kulwap ini disponsori oleh buku :Marriage With Heart” dan “Parenting With Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida. Miliki bukunya segera.

Resume tanya jawab yang bikin nyengir hangat tentang cemburu ada di blog admin kuliah via Whatsapp Keluarga Sehati. Sudah ikut jadi anggota kulwapnya? Gratis, lho.

Diskusi Puber Kedua

Psst, hati-hati. Kayanya pasanganmu mulai mengalami puber kedua!

Hoho …

Yang merasa cemas angkat tangan, meringis tipis juga boleh.

Secara ilmiah, tidak ada istilah puber kedua. Yang disebut pubertas adalah masa mulai matangnya fungsi fisik, psikis, dan seksual. Tampaknya, semua penghuni kulwap sudah melewatinya. Ada yang belum?

Namun demikian, secara kasat mata kita melihat perubahan perilaku yang terjadi pada usia tertentu, sebut saja 40-60 tahun. Atau … kita kan cenderung melihat apa yang ingin kita lihat. Jadi perilaku wajar pun terlihat berbeda.

Selain kian tenang dan bijak, pada rentang usia tersebut, kadang ada perilaku spesifik yang terkait dengan keinginan untuk terlihat lebih muda, lebih bersemangat, dan … ehm lebih cakep.

Dari berbagai sumber penelitian, kecenderungan ini muncul karena lazimnya pada usia ini manusia mulai stabil dari berbagai sisi. Pilihan pekerjaan relatif tetap, pandangan hidup mulai kokoh, usia pernikahan rata-rata masuk tahun ke-10, dan ketergantungan anak mulai mengendur.

Artinya, anak-anak tidak lagi bergantung di ujung baju kita, mulai bisa main sendiri, atau sekolah.

Setelah selama kurang lebih 10 tahun berjuang menegakkan rumah tangga, membesarkan anak, menetapkan visi dan misi keluarga, kini kita jadi punya waktu lebih leluasa untuk diri sendiri.

Yang sebelumnya nyisir pun rasanya tak sempat, kini jadi kepikiran untuk ke salon. Yang sebelumnya cuek dengan uban, kini mulai cari-cari suplemen rambut. Mandi jadi lebih lama, karena sudah tidak ada anak yang bikin buru-buru.

Apakah itu salah?

Tidak, dong. Ingin tampil lebih segar itu wajar. Apalagi jika ingin tampil lebih menarik di depan pasangan, wajib hukumnya.

Lantas apa yang bikin cemas?

Sebenarnya yang punya potensi bahaya adalah waktu luang yang tidak dikelola dengan baik. Ketika anak sudah tidak terlalu merepotkan, ketika pekerjaan mulai stabil dan irama hidup mulai tertata, waktu luang pasti tercipta.

Apa yang kita lakukan? Menekuni hobi yang produktif? Memperkuat ibadah? Atau memperbanyak grup WA?

Potensi bahaya yang lain adalah energi yang tak terwadahi.

Masih terkait dengan waktu luang tadi, energi yang kita miliki kan jadi lebih banyak. Jika tak terwadahi, dia akan cari tempat untuk muncul.

Nah, muncul di mana dia?

Yang biasanya pulang kantor buru-buru jadi punya waktu leluasa untuk nangkring dulu. Yang biasanya harus bergegas jadi bisa main media sosial lebih lama. Pintu-pintu kebaikan dan keburukan bisa muncul kapan saja, di mana saja. Kita mau kelola dengan cara apa?

Eh, jika Anda melihat orang yang mapan (mapan tidak sama dengan kaya), berpembawaan tenang, terlihat rapi, wangi … senang tidak?

Penampilan di usia 40 ke atas bisa jadi sangat menarik perhatian, lho, baik dari pasangan yang sah atau yang bukan. Jadi, mungkin bukan Anda yang ganjen, tapi orang lain saja yang tertarik #halah!

Masalahnya jadi lain jika Anda memang sengaja cari perhatian (karena energi yang tak terwadahi tadi). Jika gejala ini mulai muncul, ada baiknya buka-buka kembali materi kita yang sebelumnya. Bahas hal ini dengan pasangan, segera putuskan apa yang harus dilakukan bersama-sama.

Waktu lebih luang, energi lebih besar, wadah pun mesti lebih leluasa.

Catatan khusus:

Perempuan usia 40 mulai menyambut masa pre-menopause, perasaan tak ingin tua pun mulai muncul — itu sih saya 😀 Ada perubahan hormonal yang tak terelakkan, dan ini bisa menyebabkan liukan irama emosi. Umumnya perempuan jadi lebih tergoda untuk memperhatikan hal detail, makanya muncul julukan nenek cerewet, dan tak pernah ada kakek ceriwis.

Pengetahuan tentang perubahan hormonal ini perlu diwaspadai, bukan dengan menumpuk krim anti aging, tapi dengan lebih banyak belajar. Karena menua itu tak terelakkan dan belajar adalah kemestian.

Dengan pengetahuan ini, pasangan suami istri akan tahu benar kapan mereka punya waktu luang, dan tahu benar bagaimana memanfaatkannya.

Daripada cemas memikirkan puber kedua, mengapa tidak mulai merancang bulan madu kedua saja?

Kulwap ini disponsori oleh Buku Parenting With Heart karya Anna Farida dan Elia Daryati.

File diskusi ada di blog Admin Kulwap, https://uchishofia.wordpress.com/2015/11/03/diskusi-puber-kedua/

uchishofia

Ada yang deg-degan, khawatir, was-was dengan datangnya puber kedua yang datang pada usia 40 tahun???

Jangan-jangan pasangan jatuh cinta lagi sama orang lain. Gimana neh?

Eitsss, puber kedua itu mitos, lo. Yang ada krisis paruh baya yaitu pada usia sekitar 40 tahun. Dengan asumsi usia tersebut orang sudah mulai mapan, ga harus kaya ya. Bisa secara pembawaan tenang, anak-anak sudah mulai mandiri, banyak waktu luang, keuangan mulai stabil, dan hal-hal lain yang membuat semakin terlihat menarik. Nah, pada usia tersebut ada keinginan untuk disanjung, dipuji. Jika ia tidak mendapatkannya dari pasangan sah, kemudian orang-orang yang mengelilinginya memberikan sanjungan, itu dia awal mula krisis.

Yuk simak tanya jawab sama Psikolog Elia Daryati dan penulis buku pendidikan Anna Farida berikut,

Pertanyaan 1
Suami saya dari kecil bukan orang yang suka tebar pesona. Tiap kali saya hamil, selalu ada perempuan yang ingin dinikahi. Pada kehamilan yang keempat ini, saya semakin was-was suami usia 38, khawatir puber kedua…

View original post 1,254 more words

Tanya Jawab Seputar Bullying

Salam Sehati, Bapak Ibu.

Materi kulwap kita kali ini adalah bullying pada anak. 😔

Orang tua saling bully bisa dianggap guyonan, tapi anak saling bully sungguh perlu diperhatikan.

Bullying atau mulai lazim disebut dengan perisakan melibatkan tiga pihak: penindas, korban, dan penonton.

🌿🍃

Penindas puas, korban sedih, penonton galau. Bahkan penonton juga bisa kita kelompokkan sebagai korban, karena kita perlu pertanyakan mengapa mereka diam.

Apa yang mereka rasakan ketika temannya ditindas? Jika mereka takut membela kemudian diam, berarti dia pun korban.

Banyak anak yang diam-diam kecewa pada dirinya sendiri karena tak bisa berbuat apa-apa dan jadi penonton. 😔

Apa yang bisa dilakukan orang tua?

Mengecam ketakutan mereka jelas tidak bijak. Ketakutan mereka kan wajar. Saya sering dapati anak yang dimarahi orang tuanya karena takut kucing atau kecoak, misalnya.

Anak itu dihina dengan kalimat, “Payah. Masa sama kucing aja takut!” 😡

Sedih banget. Sudah ketakutan, tidak dibela, pula.

Jadi, untuk menghindari dan meredakan bullying, ajak dia mulai dengan trik berikut ini

1. Jika ada teman dibully, diamkan dulu. Jangan ikut tertawa, apalagi ikut berkomentar buruk. Bully biasanya caper. Makin banyak yang ribut makin senanglah dia.

2. Alihkan perhatian teman lain yang menonton, misalnya dengan berseru, “Eh, itu siapa yang ke sini?”

3. Temani anak yang jadi korban bully

4. Laporkan ke orang dewasa.
Bedakan antara lapor dan mengadu. Lapor untuk mencegah hal buruk terjadi, ngadu untuk bikin pelaku dihukum. Jadi tak perlu malu dibilang tukang lapor karena dia bertujuan baik.

5. Bekali anak dengan kemampuan yg membuat dia percaya diri, bisa akademis atau non akademis. Anak yang merasa tidak punya kelebihan cenderung cari cara sendiri untuk diperhatikan. Bisa jadi penindas agar ditakuti atau yg tertindas agar dikasihani.

6. Tetap perhatikan perilaku anak, adakah yang berubah. Apakah dia jadi enggan keluar rumah atau ke sekolah, apakah dia sering pulang memar dan bilang “terbentur meja”.

7. Jalin komunikasi dengan ortu lain, kabar bullying biasanya beredar di kalangan anak-anak dan kadang terlontar di hadapan orang tua. Jika ortu dengar kasus bullying, plis peduli.

8. Waspada dan peduli bukan parnoan dan asal main tuding. Anak yang jadi bully pada dasarnya adalah korban juga. Korban sudah jelas jadi korban, penonton pun sama resahnya. Jadi, ini tugas bersama.

Anak orang lain adalah anak kita juga. Bukan lagi saatnya berkata “Yang penting bukan anak saya”.
Sudah gak jaman! #bukanEYD.

uchishofia

ilustrasi: hhpd.com ilustrasi: hhpd.com

Yeay!!! Udah masuk minggu ke delapan, artinya sudah 2 bulan kami menemani teman-teman di kelas Kulwap Keluarga Sehati. Bahagia sekali bisa memfasilitasi persoalan yang dihadapi dalam kehidupan sehari-hari teman-teman semua. Ilmu semakin bertambah, semoga perubahan positif juga semakin meningkat, ya!

Yuk kita simak tanya jawab yang dipandu oleh Mba Anna Farida berikut ini,

Maaaf baru bisa duduk, tadi terhalang demo di jalan.

Mari kita mulai dengan penuh semangat!
Tanya 1

Bagaimana memotivasi (memberi kata-kata motivasi) kepada anak dalam menghadapi bullying (diejek/kata-kata negatif)  agar anak santai /tenang dan tidak krisis percaya diri.

Jawaban Bu Elia:

Agar anak santai menghadapi bullying. Langkah-langkahnya :

  1. Sikap kita pertama-tama, adalah tenang dan menyentuh Dengan memeluk atau menggenggam tangannya.
  2. Pahami perasaannya, dengan memberikan empati. Tatap anak dengan penuh perhatian dengan tidak mengecilkan perasaan yang dihadapi. Misalnya : “Sedih ya?, Ibu mengerti ini pasti berat untukmu. Setiap orang sesekali pernah menghadapi persoalan yang sama…

View original post 1,313 more words

Teman Tapi Mesra

Marriage With Heart

Marriage With Heart

Salam, Bapak Ibu.

Kulwap-6 akan kita isi dengan materi TTM alias Teman Tapi Mesra. Belakangan muncul istilah Sebastian—Sebatas Teman Tapi Perhatian #halah

Bu Elia dan saya membahas tema ini dalam beberapa bagian, karena TTM ini hadir dalam keseharian dalam bentuk yang berbagai macam. Saya nukilkan sebagian isi bukunya, ya.

Singkatnya, kata “mesra” dalam istilah TTM benar-benar ada dan dilakukan oleh pelakunya. Memang, kadar mesranya tidak seperti pasangan kekasih atau suami istri, tapi perhatian yang saling diberikan cenderung menjurus pada hal-hal pribadi.

Misalnya ada teman (lawan jenis) yang sedang sakit, kita bisa mengucapkan “Semoga cepat sembuh” kepadanya.

Coba perhatikan SMS seperti ini, “Kalau dekat sih kumasakin bubur. Besok masuk kerja? Mau dibawain apa?”

Lantas teman yang sakit itu membalas, “Iya, nih. Bubur buatanmu pasti enak. Besok masuk. Kalau ketemu kamu pasti sembuh.”

Kadar kedekatan seperti ini jelas lebih dari teman, tapi yang bersangkutan tak hendak disebut pacaran. Kan keduanya sudah punya pasangan. Saat ada orang meledek kedekatan mereka, terdengarlah jawaban spontan “cuma teman, hanya sahabat”. Mereka beralasan bahwa kedekatan mereka terjadi semata-mata karena punya hobi sama, punya pandangan sama sehingga nyambung ketika ngobrol, atau sekadar iseng untuk membuat hidup lebih berwarna.

Innalillahi … Warna apa sih yang ingin dihasilkan dari TTM?

Ada sebuah ungkapan yang menyebutkan bahwa bersahabat dengan lawan jenis itu seperti jatuh cinta sedikit. Anda pernah dengar? Masing-masing punya pasangan, apalagi keduanya sedang terlibat dalam urusan pekerjaan yang sama, sehingga orang lain tak curiga. Karenanya, kontrol jadi lemah. Bisa saja keduanya berdalih tidak berniat macam-macam atau tetap tahu batas, tapi yang namanya niat kadang tinggal niat. Yang terjadi berikutnya tak pernah bisa diprediksi. Dalam posisi ini, keduanya sedang mempertaruhkan pernikahan di atas hubungan yang salah.  Sebut saya kuno, tapi saya tidak percaya ada lelaki dan perempuan bisa bersahabat dekat tanpa jatuh cinta—setidaknya sedikit.

Mau curhat?

Mengapa harus curhat ke lawan jenis?

Ikatan emosional yang terbangun karena curhat pribadi antara sepasang manusia adalah pintu menuju ikatan yang lain. Menjauh dari TTM adalah seni menjaga pernikahan. Banyak orang yang jatuh cinta lagi setelah menikah, tak memandang rentang usia pernikahannya. Tak pilih-pilih juga apakah godaan itu terjadi pada pasutri yang bekerja di luar rumah atau tidak. Yang berpendidikan tinggi atau rendah, berpenghasilan melimpah atau pas-pasan. Jatuh cinta bisa terjadi pada orang baru, teman lama, atau mantan pacar. Virus ini tersedia gratis untuk publik. Setiap saat kita pun bisa mengalaminya, jadi tak perlu nyinyir ketika ada teman yang kena panah asmara TTM. Segera evaluasi diri, siapa tahu ternyata kita pun pelaku. Ketika istri atau suami lebih nyaman berlama-lama ngobrol dengan orang lain, atau diam-diam punya teman “diskusi” yang seru, kesehatan pernikahannya perlu diperiksa ulang. Cinta adalah energi yang tak pernah hilang. Jika tak terwadahi, dia akan bocor dan merembes ke tempat lain. Dan ketika hal ini terjadi, apa yang harus dilakukan? Ketika tanpa sadar (atau sadar!) kita punya TTM, bagaimana sebaiknya? Saran saya sederhana: Stop it right now! Hentikan saat ini juga!

Selingkuh

Sebenarnya, jika kita peka sedikit saja, selalu ada gejala yang terlihat atau terasa saat kita berada pada posisi TTM. Secara spesifik Islam mengajarkan umatnya untuk menjaga pandangan—pandangan fisik dan pandangan batin. Ketika dalam hati sudah muncul rasa respek atau rasa kagum kepada seseorang, seharusnya kendali sudah kuat digenggam. Segera kedepankan nalar sebelum emosi mengambil alih. Ya, segera. Kita tak pernah tahu kapan fase selanjutnya akan berkembang seperti apa. Perlu dicatat, pasangan TTM ini secara naluriah akan menciptakan aturan-aturan rahasia di antara mereka.  Secara psikologis mereka akan lelah karena harus menjaga jarak agar tak jatuh cinta betulan, harus mengendalikan sikap agar tidak menjurus jadi affair sungguhan, tapi juga harus menjaga perasaan pasangan agar tidak terjadi konflik. Ternyata, walau bukan pasangan kekasih, TTM ini sarat emosi. Saat tak bisa mengendalikan perasaan, cemburu pun terjadi di antara mereka, bahkan cemburu pada pasangan sah masing-masing. Absurd, kan?  Karena itu,menjauhkan diri dari berdekatan dengan orang yang bukan mahram adalah tindakan jaga-jaga yang sangat mendasar. Awalnya hanya bahas pekerjaan, lama-lama bahas anak dan pasangan. Berikutnya saling mengeluhkan tabiat pasangan, saling memberi masukan, dan saling menyemangati. Akhirnya, witing tresna jalaran saka kulina—cinta bersemi karena terbiasa bersama. Artinya, berawal dari TTM, hubungan cinta yang sebenarnya bisa terjalin. Yang tadinya teman bisa menjadi WIL atau PIL—sudah lah. Tiga singkatan itu tidak ada bagus-bagusnya.

Kuliah via Whatsapp dengan tema pengasuhan dan pernikahan ini digelar setiab Sabtu siang, hanya satu jam, gratis.

Ingin bergabung? Kirim pesan ke nomor WhatsApp 089650416212 (Suci Shofia, admin kulwap)

Tanya jawab TTM yang panas ada di sini.

Source: Teman Tapi Mesra