MENYISIHKAN EGO

IMG_20170629_115053.jpgRepost kulwap minggu ini

Salam Sehati, Bapak Ibu.
Ini kulwap ke-89, edisi spesial Iduladha. Saat ini orang-orang menyembelih binatang kurban, kita akan menyembelih ego.
Saya akan sarikan untuk Anda, sebuah artikel yang ditulis oleh seorang jurnalis, Fani Stipkovic.
Cara pandangnya unik, membuat saya meringis beberapa kali:

Jim Carrey berkata, “Jika mendengarkan ego, Anda akan melihat orang lain selalu lebih sukses, lebih berhasil, dan lebih wow dari Anda. Setinggi dan sebagus apa pun pencapaian Anda, ego itu tidak akan membiarkan Anda berhenti. Dia akan membujuk Anda untuk tidak mudah puas sampai mati.”

Lihat betapa ego itu penuh tipu daya. Dia selalu mengiming-imingi kita, menjanjikan kita dengan sesuatu yang sebenarnya sudah kita miliki.

Mari kita lihat bagaimana jiwa kita tumbuh.

Saat masih anak-anak, kita tidak takut mengekspresikan emosi, tidak cemas dengan apa yang mereka pikirkan, tidak takut disebut tidak tahu atau tidak bagus.

Pada tahap pertama perkembangan pribadi, kita berusaha menyesuaikan diri dengan orang-orang dan lingkungan yang berbeda. Salah satu tujuannya adalah agar kita merasa berharga dan diterima.

Pada saat itulah pikiran kita mulai bekerja dan ego kita mulai tumbuh, mulai mengontrol hidup kita.

Kita mulai memilih melakukan sesuatu dengan tujuan agar disukai, bukan karena kita memang mesti melakukannya. Kita juga takut melakukan sesuatu karena pernah mengalami hal buruk pada masa lalu—padahal ada kemungkinan hal itu bisa jadi kebaikan pada masa yang berbeda.

Masalahnya, ketakutan itu bukan murni karena KITA, tapi takut karena pandangan orang lain kepada kita.

Misalnya, kita bukan takut pada kegagalannya, tapi pandangan orang lain kepada kita ketika kita gagal. Gengsi, jaim, malu, pencitraan, you name it.

Dengan terus menerus memelihara perasaan semacam itu, alih-alih menghindarkan diri dari masalah, kita sebenarnya sedang sedang menutup diri dari datangnya pengalaman baru.

Misalnya, sebagai pasangan, kita pernah ribut karena membahas anggaran belanja yang berlebihan. Pasangan menuding—halah—kita sebagai orang yang cenderung pelit, atau bahkan matre.

Sesudahnya, kita enggan membahasnya karena takut bertengkar lagi—ini yang perlu ditelusuri. Kita takut bertengkar biasanya karena tidak mau ego kita terluka. Kita malu terlihat bersalah, malu terlihat tidak salihah #anotherhalah.

Padahal, kita punya peluang yang selalu terbuka untuk memperbaiki komunikasi. Memang ada risiko ribut di sana, tapi ada peluang juga untuk belajar. Memang ada kemungkinan ego kita terluka (lagi dan lagi) tapi dari situ kita tumbuh menguat.

Dengan anak-anak, misalnya, kita pernah punya pengalaman jadi tontonan orang saat dia berguling-guling minta mainan di supermarket.

Sejak itu, pilihan kita hanya tidak mengajaknya berbelanja, atau terpaksa menuruti permintaannya. Ego kita bicara. Kita malu jika harus jadi tontonan orang (lagi), malu terlihat sebagai orang tua yang tidak sukses mendidik anak #thenexthalah

Jadi, dalam peristiwa diskusi anggaran dan guling-guling di supermarket itu, ego kita pegang kendali. Dia menjanjikan perasaan sukses yang semu, ketenangan palsu. Cuma sejenak, dan masalah akan datang kemudian dengan intensitas yang lebih besar #ngancem

Lantas bagaimana cara merehabilitasi ego yang sok belagu itu?

Salah satu resep termudah adalah belajar minta maaf dan memaafkan. Kata Gandhi, orang lemah tidak pernah bisa memaafkan. Maaf adalah sifat orang yang kuat. Ego menghalangi kita untuk memaafkan orang lain dan memaafkan diri sendiri.

Kita bisa mengurangi belagunya ego dengan memberi dan meminta maaf secara fisik. Bilang saja maaf, bilang saja oke saya maafkan. Walau hati masih dongkol setidaknya lidah kita sudah berusaha minta dan memberi maaf. Dengan niat baik, lama-lama kita akan jadi benar-benar pemaaf.

Ego kita ini seperti pengontrak yang menyebalkan. Dia habiskan semua ruang dengan barang-barang miliknya, sampai tuan rumahnya sendiri tidak kebagian tempat. Meminta dan memberi maaf akan menyingkirkan beberapa barang milik ego itu, sehingga ada ruang terbuka untuk emosi yang lebih positif.

Jadi, ketika pasangan menuduh kita matre, atau anak guling-guling di supermarket, mintalah maaf dan maafkan dia.

Walau sekadar maaf di lisan, bukan di hati, percayalah, efeknya tetap ada. Namanya juga latihan. Kita kan tidak bisa mendadak jadi jagoan.

Nah, pada hari mulia ini, saya mohon maaf setulusnya—jemari dan hati saya—pada peserta kulwap yang selalu mengajari saya untuk menjaga wilayah ego dalam diri saya dan selalu menagih uang kontrakannya tepat waktu #apaseh.

Kulwap ini terselenggara atas sponsor buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryatiti dan Anna Farida.

Salam Iduladha, salam takzim
Anna Farida

#orangtuabelajar #pasutribelajar #learnhowtolearn #kulwap #kuliahviawatsapp #marriage #parenting

JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-4: PALOPO

durian palopoJarak Bone – Palopo 400-an km, jarak tempuh hampir lima jam. Kami berkendara, beriringan dengan Daeng Abu sekeluarga yang akan kami kunjungi rumahnya.

Di perjalanan kami singgah di rumah kerabat dekat di Sengkang, ibu kota Kabupaten Wajo. Dia ternama dengan gelar Kota Sutra.

Saya cukup membatin namanya saja, tidak boleh ada acara “jalan sutra”, demi menjaga anggaran tetap pada posisi neraca yang benar—halah bilang saja mau ngirit, gitu 😀

 

Sebelum sampai rumah, Kakak membawa kami singgah makan kapurung. Tersajilah bola-bola sagu yang lembut, lumer seperti lem, disiram dengan aneka sayuran, jagung serut, udang, dan irisan daging ikan. Mangkuknya besar, kuahnya melimpah dan mengepul, harum sekali.

 

“Dik Anna bisa makan, kan? Tidak sah ke Palopo kalau tidak makan kapurung,” ujar Daeng Lili.

Kakak ipar saya itu tidak tahu saya biasa menelan jus daun binahong, jadi kapurung yang didominasi sayur sudah pasti enak.

Tekstur bola sagunya memang asing di lidah, tapi karena licin dan tawar, sedangkan sayurnya gurih pedas, perpaduan uniknya membuat lidah terus bekerja.

Keringat merayapi pelipis, hidung berair.

Beginilah makan yang benar!

 

Kapurung tertunaikan, kami menuju rumah. Baru masuk beranda, hidung saya mengendus aroma wangi. Tak salah lagi, inilah durian Palopo yang selalu kami obrolkan di grup keluarga.

“Mana yang katanya suka durian? Bisa habis satu kepala?” tantang Daeng Abu.

Tanpa ragu saya terima tantangannya, toh ukurannya hanya sebesar kepala saya.

Durian pun dibuka, warnanya putih kekuningan, aromanya sopan.

Saya mulai menjulurkan tangan.

 

Yuumm, dagingnya tebal dan pongge-nya (ini bahasa Jawa, sebutan khusus untuk biji durian) mengerut kecil-kecil. Mirip durian montong, hanya ukurannya lebih kecil, warna dagingnya lebih terang.

Suami saya tertawa, “Puas-puasin, tuh, makan durian. Di Bandung kita biasa rebutan, kan?”

 

Pongge demi pongge tergeletak, saya mendadak sadar.

Demi jaim alias jaga image dan melindungi harkat martabat suami, saya harus berhenti makan, haha. Nanti sore dilanjutkan.

 

Keesokan harinya kami main ke Pantai Labombo di dekat rumah. Setelah main air, dua remaja menikmati kantuk di bawah pohon, dua anak yang lebih kecil mengejar kepiting. Sambil takut-takut, mereka juga berusaha membuat kelomang berjalan tapi gagal sampai kami pulang.

Nasib baik, sedang ada acara reuni di sana, dan kami kebagian makan siang gratis. Menunya ikan bakar ukuran besar dan sambal mangga. Pedas dan masam mengentak lidah. Semua piring licin tiada sisa!

 

Berikutnya Ali yang dapat jackpot. Di rumah, Tante Lili membuatkannya es pisang ijo ukuran jumbo. Hasratnya untuk makan pisang ijo di wilayah Bugis terlaksana sudah.

 

Sambil menyeruput kuahnya yang gurih segar, sekalian menanti baju-baju yang dicuci kering, kami menyusun rencana berikutnya: Toraja atau Sorowako.

Atas rayuan Ali yang sedang pilek tapi ingin banget bertemu dengan teman SMA-nya, kami menetapkan pilihan dan berpamitan.

Durian yang masih tersisa tanpa malu-malu saya bawa. Terima kasih, keluarga Palopo. Sambutannya hangat sampai ke hati.

Kepada anak-anak yang tidak suka aromanya saya berkata, “Tidak mau bau duren? Turun saja naik bus. Haha.”

 

Tunggu.

Setelah tulisan ini saya baca dari awal, tampaknya judul yang lebih tepat adalah “Wisata Kuliner di Palopo” kali, yaaa

Bersambung ke bagian-4

JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-2: MAROS

ali bantimurungKami mendarat di Makassar saat matahari mulai naik.

Begitu turun pesawat dan melihat jam dinding di bandara, gadis kecil saya bergumam, “Ternyata benar, ya, beda satu jam dengan jam tangan Upeng.”

Perbedaan zona waktu yang sebelumnya hanya jadi bahan cerita dia buktikan sendiri. Dia periksa semua hape, dia cocokkan waktunya dan kecewa.

“Kok sudah sama?”

“Kan telepon pintar, Peng. Jadi otomatis berubah,” sahut kakaknya.

Rupanya kali ini otomatisasi membuat gadis kecil saya tidak berkenan. Tidak seru, masa hanya jam tangannya yang beda.

 

Kabar baiknya, kami dapat pinjaman mobil dari teman lama. Dia pemilik kapal penangkap ikan dan kami akan mengambil mobil itu ke rumahnya pakai taksi. Tadinya mau pakai bus, tapi harganya nyaris sama, jadi taksi saja.

Sopirnya sudah tua, dan sepanjang jalan dia menceramahi kami tentang pentingnya merayakan Idulfitri sesuai dengan ketentuan pemerintah. Di lingkungannya ada perbedaan penetapan hari dan dia tidak suka. Suami saya yang ada di sebelahnya hanya bilang “iyye, iyye” tanpa bisa menyela.

Kami semua diam dan patuh, seperti sedang dimarahi oleh guru ngaji, haha.

Untung, kecepatannya berbicara berbanding lurus dengan ketangkasannya mengemudi. Caranya berbelok di jalan tol yang menikung membuat saya beberapa kali saling pandang dengan anak-anak. Top, dah!

 

Kami dapat pinjaman mobil yang besar, leluasa untuk enam orang. Terima kasih banget, Om Ari! Semoga kapalnya selalu dapat tangkapan yang banyak dan berkah.

Karena mobil harus dicuci dulu, kami putar-putar kota sejenak. Sebuah bangunan tinggi, kebiruan, dengan tulisan “Fajar” segera menarik perhatian saya. Itu gedung pertama yang saya potret dan saya tayangkan di media sosial.

Komentar anak-anak menyadarkan saya bahwa kita cenderung lebih cepat melihat sesuatu yang dekat dengan keseharian kita.

Jika saya dokter, mungkin gedung rumah sakit yang cepat tertangkap oleh penglihatan. Jika saya hobi nge-mall, mungkin pusat perbelanjaanlah yang lebih tampak. Bukan kebetulan juga, ternyata, beberapa hari ke depan, saya akan masuk gedung kebiruan itu dan bertemu banyak perempuan hebat. Nantikan ceritanya.

Kembali ke acara cuci mobil.

Setelah lama mencari sambil pasrah karena ini Lebaran hari kedua, kami nemu juga tempat pencucian mobil di sisi jalan. Antrean yang panjang membuat kami ciut, tapi tak ada pilihan. Syukurlah ada warung di dekat situ, jadi kami bisa makan dan numpang duduk hingga tuntas prosesi pencucian (atau penyucian, hayo? #IngatEBI #IngatEYD).

Acara ini jadi penting dibahas karena beberapa menit pertama di belakang setir, Bapak diam saja.

Sebagai orang yang sangat mengenalnya, saya tahu harus tanya apa, “Berapa barusan, Pak?”

“200 ribu.”

Hah! Pantesss, dia dongkol. Kena tekuk rupanya. Pelanggan lain kesal juga, katanya. Tapi sudah, lah ya. Perjalanan masih panjang, dan kami perlu suasana gembira. Tugas saya adalah segera mengalihkan pembicaraan, apalagi kami harus menghadang macet menuju Maros.

Syukurlah bukit-bukit kapur yang menjulang di kanan kiri jalan membuat kami jadi punya topik diskusi yang seru, sesekali ditingkahi omelan Bapak tentang pabrik semen yang tak henti mengeruk dan merusak kawasan karst di sana.

 

Obrolan tentang eksploitasi bukit kapur berlanjut di rumah tante dan om yang kami singgahi, tapi tampaknya anak-anak lebih peduli pada buras dan semur daging bebek yang gurih. Fyi, buras adalah lontong nasi yang sangat lezat karena diolah dengan santan, salah satu makanan khas Sulawesi Selatan. Full kalori, pokoknya!

IMG_20170626_172726Dengan perut kenyang kami melaju ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, lokasi penangkaran kupu-kupu yang terkenal itu. Sayang cuaca mendung dan hujan rintik mengikuti kami, jadi kupu-kupu yang kami sambangi lebih memilih bersembunyi di balik dedaunan.

 

Tak apa. Kami memutuskan untuk menjajal wahana baru, Helena Sky Bridge. Dengan susah payah kami (lebih tepatnya saya, hehe) memanjat menara setinggi 20-an meter. Sama sekali tidak ramah untuk bobot saya yang tidak ringan, duh!

Menara kembar ini dihubungkan oleh jembatan gantung, membentang 50-an meter di atas lokasi penangkaran. Lebar jembatannya kurang dari satu meter dan segera bergoyang jika diinjak.

Glek!

Tenang, sambil melintas, kami semua diikat oleh tali pengaman yang kokoh. Ada rasa takut, tapi berhubung di bawah jembatan adalah hutan tebal, dan di sekeliling saya ada bukit menghijau, pesonanya sungguh menenangkan.

Jadi kami melangkah perlahan, sambil mencengkeram tali pengaman, sambil foto-foto. Teuteup!

Belum lagi Ali, si remaja, berjalan mendahului saya dan beberapa kali minta difoto dari belakang. Dia tidak tahu betapa emaknya harus baca-baca doa menguatkan hati saat melepaskan pegangan demi menghasilkan gambar yang dia kehendaki #huhah.

Akhirnya semua berhasil melintasi Jembatan Helena, hanya si bungsu Upeng yang terlihat cemas, tapi segera lega begitu sampai ujung.

 

Setelah turun menara dengan perjuangan yang lebih menantang—kesulitan ini buat saya saja karena anak-anak segera meluncur tanpa kendala—kami menyusuri hutan kecil dengan bebatuan yang nyaman diinjak. Tekstur batuan yang bergelombang membuat langkah kokoh, walau medannya naik turun bergantian. Hujan pun tak membuatnya licin, kecuali saya salah injak bagian tanah yang berlumut—fokus, fokus. Banyak orang, malu kalau jatuh 😀

Ada dinding kapur dengan ceruk yang tak begitu besar, tapi anak-anak bisa mengamati stalaktit, stalagmit, dan lumut yang unik.

“Lumutnya panjang-panjang seperti rumput sintetis,” kata mereka.

 

Hijaunya pohon dan semak benar-benar memanjakan mata, aroma lembapnya menyegarkan. Kebersihan taman pun lumayan terjaga, tak banyak sampah plastik walau tempat sampah terletak pada titik-titik yang berjauhan.

Kami terus berjalan dan berpikir mendung masih menemani.

Ternyata, begitu keluar dari kerimbunan, matahari bersinar cukup terang. Suasana gelap tadi tercipta tak lain karena kami berada di bawah naungan pepohonan tebal. Rasa hangat ikut menjalari hati saya, manusia kota yang baru masuk hutan setelah sekian lama. Norak gitu, deh. Biarin.

Terima kasih, Bantimurung.

Bersambung.

Tanya Jawab Spontan

ubit

Muhammad Ruzbi

Salah satu teman Facebook saya, fotografer andal, Savitry “Icha” Khairunnisa mengajak saya berbagi tanya jawab spontan dengan anak. Saya salin-rekat pertanyaan dari dinding FB Icha, dan ini dia hasil “wawancara” saya dan Ubit (12).

*********

WITHOUT prompting, ask your child these questions and write EXACTLY what they say.

What is something I say a lot?
Thanks and I love you

What makes me happy?
When I always say thank you

What makes me sad?
When I do something wrong

How tall am I?
Average

What’s my favorite thing to do?
Writing

What is my favorite food?
Everything that makes you loose your weight (Emak tutup muka sambil ngakak)

What is my favorite drink?
Tomato juice

If I could go anywhere, where would it be?
(He answer promptly but I don’t want to tell you, haha)

Do you think you could live without me?
Yes, I think (Emak patah hati, hiks)

How do you annoy me?
When I do something wrong

 What is my favorite movie?
I don’t really know

What is my favorite song?
I don’t really know

 What is my favourite TV show?
Do you even watch TV?

 What is my job?

Writer

 How old am I?
22 haha (Emak ngakak lagi)

What’s my favorite colour?
I don’t know. You wear almost all colours

 How much do you love me?
I love you very much

Copy, paste and change my answers and see what your child says!
You will be surprised how much your kids pay attention to you!

 

*********

Nah, mau coba juga?

Terima kasih, Icha 😉

 

 

 

 

Phantom of the Opera

phantom-w-face

foto: Burdekin Theatre

Qosima Luthfa alias Upeng (9) sedang terpesona oleh Phantom of the Opera. Mula-mula entah bagaimana dia suka lagunya. Seneng aja, katanya. Berbagai versi youtube pun dia setel.

Kemudian dia mulai berusaha menyanyikannya sambil sesekali berseru, “Sing my angel of music! Sing for me!”

Saya santai saja, tapi kakaknya, Ubit (12), protes.

“Serem, Bu, suaranya!”

Haha.

Nah, seharian ini Upeng terus mengejar saya dengan berbagai pertanyaan: kenapa Phatom pakai topeng, dia cacat sejak kecil atau pas sudah dewasa, dia seumur dengan Christine atau sudah tua, apakah Christine tahu siapa dia, sejak kapan Christine diajari nyanyi sama Phantom, gimana ngajarinnya … dan seterusnya.

Barusan setelah salat isya dia bilang, “Seharian ini Upeng tanya terus soal Phantom, ya Bu. Upeng juga heran kenapa suka. Penasaran, sih.”

Biasanya, ketika penasaran tentang sesuatu, saya ajak dia googling. Lagi pula, biasanya dia googling sendiri. Khusus film ini dia tanya-tanya melulu dan saya berusaha menjawabnya—padahal saya juga harus diam-diam googling karena film ini sudah lama dan saya lupa sebagian detailnya.

Belum niat nonton lagi, sih. Walaupun penuh lagu yang indah, film ini agak gloomy. Kesedihan dan kesepian Phantom benar-benar berhasil dibagikan pada penonton. Itu juga alasan saya masih menahan diri mengajak Upeng nonton bareng.

Mungkin besok saya masih harus berjaga-jaga melayani pertanyaan anak 9 tahun tentang kematian Phantom dan mengapa selama ini dia bersembunyi. Kalau dia lapar gimana? Kan gedung opera itu tidak selamanya dihuni. Apakah dia harus ke warung atau ke pasar? Pipisnya di mana? Apakah di atas atap ada kamar mandinya? Kenapa tidak ada orang lain yang berusaha menyelidikinya—ini pasti ditanyakan karena Upeng adalah pembaca Detektif Conan.

Jadi, malam ini saya tunda beberapa pekerjaan yang sudah mepet tenggatnya. Saya belajar tentang Phantom dulu agar besok tak perlu mengeluarkan jurus ngeles, eheheh.

Selama jadi ibu, hal yang paling menantang adalah menyiapkan diri untuk memberikan jawaban paling seru dan obrolan yang disukai anak-anak. Saya merasa jadi orang yang paling berprestasi ketika anak-anak manggut-manggut mendapatkan jawaban dari saya—walau tidak semua jawaban itu benar. Ya itu tadi, lebih banyak ngeles-nya. Saya merasa jadi komunikator terandal ketika anak-anak tak mau beranjak saat saya berbicara. Kadang mereka terus bertanya sambil membuntuti saya yang mondar-mandir di dalam rumah sambil mengerjakan ini itu.

Penafian: itu hanya terjadi ketika yang saya bahas adalah hal yang mereka inginkan, yang menyangkut kepentingan mereka.

Ketika yang saya obrolkan adalah kepentingan saya: jadilah anak yang baik, saleh, penurut, rajin bantu Ibu, mau beres-beres tanpa disuruh — wiii, beda banget reaksinya.

Bahasa tubuh mereka akan menjauh, ingin segera melarikan diri dari saya. Raut muka mereka datar, tanpa binar. Suara mereka pun cenderung perlahan, kosakata pun terbatas, “iya, maaf, oke …”

OOT: Tadi si sulung lapor tukang sampah belum datang dan aroma tak sedap mulai muncul. Dia berinisiatif akan membuang semua sampah kami ke TPS besok pagi. Antusiasme terasa sekali ketika keinginan muncul dari dirinya sendiri. Beda banget dengan kejadian … ah, lupakan, saya malu.

Balik ke Phantom yang misterius.

Saya sudah dapat beberapa informasi penting, dan siap menjadi narasumber besok pagi. Itu pun jika Upeng masih berminat membahasnya. Saya juga pernah semalaman mencari asal usul emoticon hati, mengapa dia jadi simbol cinta, gara-gara Ubit kecil bertanya.

Keesokan harinya ketika saya berapi-api memaparkan muasal simbol “lope-lope” ini, dia mengerutkan dahi sambil bertanya, “Emang kemarin Ubit tanya apa, gitu, Bu?”

Glek!

Jadi, mari berseru saja, “Sing my angel of music! Sing for me!”

😀

SURAT CINTA QOSIMA

img_20160913_075637Saya penulis buku parenting, sesekali jadi narasumber pelatihan keluarga, tapi bukan ibu yang selalu keren. Empat anak saya adalah saksi ahli sekaligus saksi korban saat saya jatuh bangun belajar jadi ibu. Delapan belas tahun sungguh belum apa-apa, tapi saya masih saja dapat hadiah demi hadiah yang bikin panas mata.

Sering saya dengar mereka saling berkata, “Ibu kita baik, ya“ atau “Ibu, you are my saviour“ atau “Please bilang nggak boleh, Bu. Biar Kakak nggak usah pergi malam-malam gini ke kampus“ 😀 atau “Susah, lho, Pak, dapat istri kayak Ibu“, padahal saya sering bikin mereka jengkel. Padahal keluhan saya pada mereka bisa bermeter-meter setiap harinya. Saya sering malu saat saya yang lepas kendali dan merekalah yang buru-buru minta maaf #tutupmuka

Jadi, sebenarnya anak-anak saya itulah, yang membuat saya jadi baik. Mereka segera melupakan kealpaan saya, kerewelan saya, ketidakhadiran saya; mereka segera menggantikan cela saya dengan cinta.

Saya belum jadi ibu yang ideal, tapi semoga anak-anak tahu bahwa saya ini pembelajar.

Anak-anak saya biasa menyelipkan pesan-pesan cinta. Saya lebih sering membalasnya dengan pelukan daripada pesan yang sama — ini harus diperbaiki. Gimana, sih, Bu Anna?

Pagi ini, ketika sebagian urusan rumah selesai, saya buka laptop.

Di dalamnya ada tiga lembar kertas, dua terlipat.

Adegan selanjutnya adalah air mata 🙂

 

Ini surat kesekian dari putri bungsu saya, Qosima Luthfa Anvari (9). Saya salin apa adanya, maafkan kesalahan tata bahasanya.

 

img_20160913_075821❤ For Mom ❤

Mom, Monday is the greatest (sorry if I spell it wrong) day ever. Because I’m not go to school. I think because Idul Adha. So if I wrong, tell me, ok? 🙂

❤ ❤ ❤ ❤

Mom, if you see about the M“, That “M“ is different, right? That because you are special to me 🙂

I love you more than anyone because you are my mom.

This is a song for you 🙂

 

I love you“, by ***** for my lovely mom

You are my mom

Who protected me

And taking care of me

When I was child and when I grow

You gave name full of love to me

You gave me meals and gave me other

You prayed for me to keep healthy

And you give friend for me

And thats why I love you – 2 X

I LOVE YOU

 

PS: Maaf, harusnya kemarin-kemarin ngasihnya 🙂

 

Ini surat yang kedua. Saya tidak tahu apa makna 11 September 2016.img_20160913_075923

 

Dear Mom,

Mom, you should know that the “things“ I give you that should be given yesterday or 11/9/2016 Sunday. That song I want sing for you buuuut …..

Anyway, just like in the song. Thank you so much because you are growing me from im child until i grow bigger. You give me meal and other. If I get sick you taking care of me, give  me some medicine, helping me to eat and other. Thank you so much mom. My lovely mom.

❤ ❤ ❤ ❤

Here the song again

Thank You Mom

Oh, my mom saving me from dangerous

I can’t do anything for her

What i can do just saying …

Thank You 2x

 

Mom giving me a present

And something surprising me

I don’t have any surprise for her

What i can do is just saying

Thank You 2x

——–

In the song

Ps:

Is okay my daughter

If you are okay

I’ll happy too

Because you are my daughter

———

From your litlle daughter.

 

Ada kalanya saya merasa tidak sukses jadi ibu sebagaimana yang saya ajarkan kepada ibu-ibu lain, seperti yang saya tuliskan di buku.

Walaupun begitu, selalu ada penguatan dari anak-anak.

Mereka saya besarkan dengan kemauan belajar dan permintaan maaf selalu.

Salam takzim,

Anna Farida

http://www.annafarida.com

 

 

 

MENEMANI ANAK BERANI AMBIL RISIKO.

IMG_20160326_170429

Pantai Palangpang dilihat dari Puncak Dharma, Ciletuh Geopark Sukabumi

Salam sehati, Bapak Ibu. Apa kabar? Long weekend yang padat, tetap kerja tetap kejar tenggat—eh, malah curhat #gimanasih.

Kita masuk ke kulwap-34. Ada tema bagus yang diajukan salah satu peserta, yaitu tentang taking risk. Hari ini saya mengutip Soren Kierkegaard di Instagram saya–@annafaridaku– During the first period of a human’s life, the greatest danger is not to take the risk.

Bahaya terbesar di awal kehidupan manusia adalah tidak berani ambil risiko. Kebayang, nggak, kalau anak-anak kita tumbuh sebagai generasi cari aman. Atau, jangan-jangan kita sebagai orang tua cenderung cemas ketika anak-anak melakukan sesuatu yang berisiko, hehe.

Btw hari ini anak sulung saya pamit latihan, pulang malam. Hari Minggu dia mau ikut kejurda judo antar perguruan tinggi di Karawang. Saya senang dia aktif berolahraga atau bela diri apa pun.

Aneh, hari ini saya merasa ada perasaan “serrr” gitu di hati. Saya bayangkan anak saya membanting dan dibanting orang lain. Badannya lumayan besar dan kuat, sih. Dia bisa menjinjing dua galon penuh air seperti menjinjing hape.

Tapi … siapa tahu lawannya jauh lebih besar. Siapa tahu dia salah teknik …

Naaah!

Siapa tahu … siapa tahu …

Ini risiko. Ada yang baik ada yang buruk.

Pada dasarnya, anak-anak adalah juara penantang risiko. Lambat laun, keberanian mereka terkikis oleh ketakutan orang tua—orang tua seperti saya ini salah satunya. Kian besar dia, kian besar juga kecemasan itu ditularkan kepada anak.

Saat anak ambil risiko dan ternyata salah, dia disalahkan. Saat tak bisa ambil inisiatif pun dianggap tidak peduli, tidak dewasa—piye, sih, Bu, Pak? Jadi maumu itu apppaaa?

Mengambil risiko bukan berarti selalu berani dalam arti serampangan. Tetap ada perhitungan, ada batasan, dan ada pertanggungjawaban.

Ini bisa dilatih sejak dini.

Mari kita belajar bersama, menemani anak-anak menjadi risk taker yang benar.

+ Bicarakan. Kita sudah belajar tentang komunikasi asertif. Yang tertinggal materi ini bisa minta ke Mahmud Admin. Hidupkan komunikasi yang terbuka tentang risiko-risiko yang pernah diambil orang tua, lengkap dengan hal-hal yang dipertimbangkan saat itu, dan bagaimana hasilnya. Dari cerita-cerita itu anak lambat laun belajar bahwa risiko memang bagian dari hidupnya, karena orang tua mereka tetap ada walau telah melewati berbagai risiko.

+ Pastikan bahwa anak-anak tahu betapa berharganya hidup. Libatkan mereka dalam kegiatan-kegiatan sosial, membantu orang lain atau makhluk lain. Saya tidak suka kucing, tapi pernah (terpaksa) pelihara kucing yang baru lahir. Anak-anak belajar banyak tentang hidup yang sangat rawan di masa bayi, risiko kematian sangat dekat. Fyi, kucing itu baik-baik saja hingga kini, diadopsi teman Ali setelah membuka mata dan pintar menyusu pakai pipet. Mama Anna yang mengajarinya. Saya tetap tidak suka kucing, saya suka sapi

+ Pastikan anak-anak tahu antara tindakan dan konsekuensinya. Berikan mereka peluang menjajal dunia nyata. Misalnya, saat Anda pergi dengannya dan tersesat—saya ini tukang nyasar—minta dia bertanya ke tukang parkir dan izinkan dia memandu jalan. Jika sampai di tujuan, ucapkan terima kasih. Jika nyasar tambah jauh, tertawalah bersama karena Anda punya teman

+ Bahas di rumah. Jangan ngomel di jalan karena kian kesasar. Enjoy the ride dan cari tempat yang dituju bersama-sama. Bahas di rumah mengapa Anda bisa kesasar, misalnya. Apa kira-kira cara yang terbaik agar tidak nyasar, minta anak berpendapat. Hal yang sama bisa diterapkan ketika memilih baju, atau memilih jodoh #halah!

+ Temani anak, libatkan diri. Ajak dia menjajal hal baru yang Anda sendiri belum pernah melakukannya. Saya, misalnya, zona nyaman saya adalah di rumah, di depan komputer, internet kencang. Anak-anak pun demikian. Beberapa saat yang lalu saya ajak mereka bertualang ke Ciletuh Geopark di Sukabumi. Kami naik bus umum, mencari-cari alamat—walaupun sangat mudah dan langsung ketemu hahaha—bertemu orang-orang baru, makan makanan yang bukan masakan Ibu, tidur di rumah penduduk desa (walau tetap nyaman), dan akhirnya menunggang mobil offroad yang bikin saya berteriak ribuan kali #lebayasalways menuju puncak gunung. Tapi di pantai … saya tetap menjauh dari air, takut basah #heuuu

+ Izinkan mereka belajar sakit atau kecewa. Mengambil risiko bisa menghasilkan luka lahir dan batin. Anak sulung saya yang mau tanding lusa ada kemungkinan cedera dan kecewa, tapi ada juga kemungkinan baik-baik saja dan menang, melaju ke kejurnas. Risiko yang dia hadapi sudah dia antisipasi dengan latihan sebelumnya, teori dan praktik teknik tanding, termasuk teknik jatuh dan menghindari cedera. Jika tetap saja cedera ya itu risiko tadi.

Ketika anak dilepas naik angkot sendiri, misalnya, pastikan mereka siap dengan pengetahuan yang memadai tentang rute, bertemu orang asing, atau tindakan saat darurat. Jadi, risiko tidak sama dengan nekat.

+ Simulasikan. Saya mungkin pernah cerita entah di tulisan yang mana. Saat anak saya masih kecil, password game dan komputer mereka adalah nomor hape saya. Mau tak mau mereka hafal jika terjadi sesuatu. Sesekali mereka saya ajak berandai-andai. Jika tiba-tiba terpisah dengan Ibu di pasar, apa yang akan kamu lakukan? Jika kamu pulang sekolah dan rumah kosong, kamu nggak bawa hape, kamu mau ngapain? Ketika angkot mendadak ganti arah, apa tindakanmu?

+ Mendekatlah dengan anak. Kita ini manusia, cenderung melihat hal-hal yang ada di permukaan (kita? Saya saja kali, ya? Eheheh). Kadang orang tua tidak tahu apa yang dilakukan anak ketika kita tidak ada. Kedekatan itu anak membuat anak merasa nyaman ketika melihat risiko yang memang perlu dibahas dengan orang tua. Dia yakin bahwa dengan bertanya, misalnya apakah aku boleh menginap di rumah teman, dia akan dapat jawaban yang masuk akal—bukan omelan panjang.

Eh, saya minta maaf, setelah selesai menulis, ternyata saya kebanyakan curhat sehingga contoh kasusnya adalah anak-anak yang lebih besar. Padahal yang namanya risk taking pun bisa dilatihkan pada anak-anak yang lebih kecil.

Kita bisa melatih mereka dengan lebih banyak mengajak mereka di luar rumah, bertemu orang baru, melakukan hal baru, menjajal hal baru. Mungkin kita akan membahasnya lebih banyak dalam sesi tanya jawab, ya.

Happy risk taking with our kids!

Salam takzim,
Anna Farida

Tanya jawab dengan narasumber di blog Suci Shofia

Kulwap ini disponsori oleh buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Ikuti kuliah via Whatsapp tentang parenting dan pernikahan. Daftarkan nomor WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.