MENYISIHKAN EGO

IMG_20170629_115053.jpgRepost kulwap minggu ini

Salam Sehati, Bapak Ibu.
Ini kulwap ke-89, edisi spesial Iduladha. Saat ini orang-orang menyembelih binatang kurban, kita akan menyembelih ego.
Saya akan sarikan untuk Anda, sebuah artikel yang ditulis oleh seorang jurnalis, Fani Stipkovic.
Cara pandangnya unik, membuat saya meringis beberapa kali:

Jim Carrey berkata, “Jika mendengarkan ego, Anda akan melihat orang lain selalu lebih sukses, lebih berhasil, dan lebih wow dari Anda. Setinggi dan sebagus apa pun pencapaian Anda, ego itu tidak akan membiarkan Anda berhenti. Dia akan membujuk Anda untuk tidak mudah puas sampai mati.”

Lihat betapa ego itu penuh tipu daya. Dia selalu mengiming-imingi kita, menjanjikan kita dengan sesuatu yang sebenarnya sudah kita miliki.

Mari kita lihat bagaimana jiwa kita tumbuh.

Saat masih anak-anak, kita tidak takut mengekspresikan emosi, tidak cemas dengan apa yang mereka pikirkan, tidak takut disebut tidak tahu atau tidak bagus.

Pada tahap pertama perkembangan pribadi, kita berusaha menyesuaikan diri dengan orang-orang dan lingkungan yang berbeda. Salah satu tujuannya adalah agar kita merasa berharga dan diterima.

Pada saat itulah pikiran kita mulai bekerja dan ego kita mulai tumbuh, mulai mengontrol hidup kita.

Kita mulai memilih melakukan sesuatu dengan tujuan agar disukai, bukan karena kita memang mesti melakukannya. Kita juga takut melakukan sesuatu karena pernah mengalami hal buruk pada masa lalu—padahal ada kemungkinan hal itu bisa jadi kebaikan pada masa yang berbeda.

Masalahnya, ketakutan itu bukan murni karena KITA, tapi takut karena pandangan orang lain kepada kita.

Misalnya, kita bukan takut pada kegagalannya, tapi pandangan orang lain kepada kita ketika kita gagal. Gengsi, jaim, malu, pencitraan, you name it.

Dengan terus menerus memelihara perasaan semacam itu, alih-alih menghindarkan diri dari masalah, kita sebenarnya sedang sedang menutup diri dari datangnya pengalaman baru.

Misalnya, sebagai pasangan, kita pernah ribut karena membahas anggaran belanja yang berlebihan. Pasangan menuding—halah—kita sebagai orang yang cenderung pelit, atau bahkan matre.

Sesudahnya, kita enggan membahasnya karena takut bertengkar lagi—ini yang perlu ditelusuri. Kita takut bertengkar biasanya karena tidak mau ego kita terluka. Kita malu terlihat bersalah, malu terlihat tidak salihah #anotherhalah.

Padahal, kita punya peluang yang selalu terbuka untuk memperbaiki komunikasi. Memang ada risiko ribut di sana, tapi ada peluang juga untuk belajar. Memang ada kemungkinan ego kita terluka (lagi dan lagi) tapi dari situ kita tumbuh menguat.

Dengan anak-anak, misalnya, kita pernah punya pengalaman jadi tontonan orang saat dia berguling-guling minta mainan di supermarket.

Sejak itu, pilihan kita hanya tidak mengajaknya berbelanja, atau terpaksa menuruti permintaannya. Ego kita bicara. Kita malu jika harus jadi tontonan orang (lagi), malu terlihat sebagai orang tua yang tidak sukses mendidik anak #thenexthalah

Jadi, dalam peristiwa diskusi anggaran dan guling-guling di supermarket itu, ego kita pegang kendali. Dia menjanjikan perasaan sukses yang semu, ketenangan palsu. Cuma sejenak, dan masalah akan datang kemudian dengan intensitas yang lebih besar #ngancem

Lantas bagaimana cara merehabilitasi ego yang sok belagu itu?

Salah satu resep termudah adalah belajar minta maaf dan memaafkan. Kata Gandhi, orang lemah tidak pernah bisa memaafkan. Maaf adalah sifat orang yang kuat. Ego menghalangi kita untuk memaafkan orang lain dan memaafkan diri sendiri.

Kita bisa mengurangi belagunya ego dengan memberi dan meminta maaf secara fisik. Bilang saja maaf, bilang saja oke saya maafkan. Walau hati masih dongkol setidaknya lidah kita sudah berusaha minta dan memberi maaf. Dengan niat baik, lama-lama kita akan jadi benar-benar pemaaf.

Ego kita ini seperti pengontrak yang menyebalkan. Dia habiskan semua ruang dengan barang-barang miliknya, sampai tuan rumahnya sendiri tidak kebagian tempat. Meminta dan memberi maaf akan menyingkirkan beberapa barang milik ego itu, sehingga ada ruang terbuka untuk emosi yang lebih positif.

Jadi, ketika pasangan menuduh kita matre, atau anak guling-guling di supermarket, mintalah maaf dan maafkan dia.

Walau sekadar maaf di lisan, bukan di hati, percayalah, efeknya tetap ada. Namanya juga latihan. Kita kan tidak bisa mendadak jadi jagoan.

Nah, pada hari mulia ini, saya mohon maaf setulusnya—jemari dan hati saya—pada peserta kulwap yang selalu mengajari saya untuk menjaga wilayah ego dalam diri saya dan selalu menagih uang kontrakannya tepat waktu #apaseh.

Kulwap ini terselenggara atas sponsor buku “Parenting with Heart” dan “Marriage with Heart” karya Elia Daryatiti dan Anna Farida.

Salam Iduladha, salam takzim
Anna Farida

#orangtuabelajar #pasutribelajar #learnhowtolearn #kulwap #kuliahviawatsapp #marriage #parenting

BERDAMAI DENGAN MASA LALU

i-wanna-be-happySalam Sehati, Bapak Ibu. Kulwap ke-33 Angka bagus, nih.

Kangmas Paulo Coelho pernah berkata, “Make peace with your past so it won’t destroy your present.”

Saya jadi bertanya-tanya, apakah tanpa sadar, saya dihantui oleh hal yang pernah terjadi di masa lalu? Apakah saya selalu ingat orang yang pernah menyakiti saya? Apakah saya menyesali apa yang pernah saya putuskan?

Tentang hal buruk yang pernah saya alami, atau keputusan salah yang pernah saya ambil, tentu ada. Tak perlu kepo, kita semua mengalaminya, kan? Sotoy as always #tutupmuka

Saya sudah tak bisa mengubahnya, menyesalinya juga menghabiskan tenaga. Karenanya, saya belajar memaafkannya. Bukan berarti saya menganggap hal buruk atau kesalahan itu jadi benar. Yang buruk ya buruk, yang salah ya salah.

Saya hanya memberi kesempatan pada diri sendiri untuk move on #cieee

Apa yang saya lakukan?

+ Rasa tidak nyaman atau sakit itu memang ada, saya tidak menyangkalnya. Saya sedih, memang sedemikian adanya. Kata ahli komunikasi favorit saya, musibah itu tak terelakkan tapi terus merasa menderita itu pilihan.  I am in control. I am in control. Itu mantra saya.

+ Saya mengisi hidup saya dengan hal yang bermanfaat. Saya bergaul dengan tiga macam kelompok manusia: guru saya, teman saya, murid saya. Ketiganya menyumbang energi positif yang luar biasa.

+ Berdamai dan memaafkan diri sendiri itu bukan seperti bikin mi gelas. Kadang saya sudah memaafkan, tapi sekali waktu sulur-sulurnya menggoda saya lagi. Biasanya, rasa sedih atau rasa bersalah itu muncul dalam bentuk keluhan, omelan, atau kemarahan. Siapa korbannya?

Ya, Anda benar. Orang terdekat, terutama anak-anak. Memang perlu waktu, jadi saya beri diri saya waktu. Start – restart,  ingat?

+ Masa lalu saya tidak bisa diubah, tapi penafsiran saya bisa berubah. Mungkin saat itu saya masih muda—sekarang juga masih muda, sih—jadi saya mengambil keputusan yang saya sesali. Kini saatnya saya melihat sisi baiknya, setidaknya saya punya pengalaman, kan?

+ Saya belajar free writing kepada Pak Hernowo Hasyim, pakar baca tulis. Setelah sekian tahun menulis untuk orang lain, untuk Anda, para pembaca, saya belajar (kembali) menulis untuk diri sendiri. Saya tuliskan apa pun yang mengganggu perasaan saya, tanpa sensor. Saya pindahkan sampah itu dari dalam diri saya ke laptop. Hal pertama yang harus saya ingat adalah menghapusnya segera, eheheh. Ajaib, walau hanya beberapa sentimeter, hantu itu jadi berjarak dengan saya.

+ Beberapa hal saya bagikan kepada suami saya, orang-orang terdekat saya; beberapa hal saya tangani sendiri. Saya memilih masa kini untuk dijalani sepenuh hati, masa depan untuk diperjuangkan, kampung akhirat untuk pulang.

Masa lalu akan menjadi milik saya selamanya. Sebagaimana cangkir dan tatakan dalam peti plastik di bawah meja saya, mau dikeluarkan kapan ya terserah saya. Mau dihibahkan juga terserah saya—jadi Anda mau dapat hibah apa? Cangkir atau masalah? Buku atau masa lalu? 😀

Pertanyaan:

Mengapa kata “masa lalu” lebih sering dikaitkan dengan hal yang buruk? Bukankah masa lalu itu lengkap dengan baik dan buruknya?

Mengapa yang buruk sering disebut-sebut dan jadi hantu, sedangkan yang baik diabaikan begitu saja?

Mengapa saya juga menulis tentang pengalaman buruk dan keputusan yang salah?

Hapus saja, gitu, dan bikin artikel baru? Tak sempat, lagi, Pak dan Bu. Ini sudah setengah satu, saatnya post materi kulwap, ahahah.

Mari berbagi pengalaman berdamai dan mensyukuri masa lalu, karena apa pun yang terjadi saat itu membentuk apa adanya dirimu.

Salam takzim,
Anna Farida

www.annafarida.com

It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

Ikuti kulwap (kuliah via Whatsapp) tentang keluarga dan pernikahan Keluarga Sehati. Daftarkan nomor WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

 

Mana Prinsip Mana Recehan

IMG_20160326_124836

Salam sehati, Bapak Ibu.
Saya tulis materi kulwap ke-27 ini di ruang tunggu kereta yang sunyi

Dari beberapa usul yang masuk, ternyata materi mana receh mana prinsip masih jadi primadona. Mungkin ada kaitannya dengan kisah recehan saya sebelumnya, eheheh.

Kita tahu uang receh, kan?

Bobotnya berat, nilainya tak seberapa–kecuali uang receh tahun 1221, mungkin mahal 😀

Dalam hidup bersama pasangan, kita melewati aneka peristiwa yang manis pahit asin gurih basi hambar salah resep atau yang menyenangkan.

Maunya sih senang senantiasa, tapi kan nggak seru jadinya.

Nah, pertanyaannya,  saat ada hal yang kurang menyenangkan dari pasangan,  bagaimana kita mengelolanya?

Misalnya, pasangan kita hobi menyimpan sepatu di depan pintu, sedangkan kita ingin sepatu selalu rapi di rak. Pasangan kita selalu lupa mematikan lampu saat keluar kamar, padahal tarif listrik naik melulu.
Pasangan kita suka nasi lembek, kita tidak. Dia suka tidur menghadap tembok, Anda bete mendapatinya seperti itu

Kita pernah belajar materi komunikasi asertif,  tapi khusus untuk beberapa hal, it just does not work. Pokoke nggak bisa, tetap saja simpan sepatu di depan pintu.

Bagi Anda itu sangat penting karena terkait kerapian, bagi dia ah biasa saja. Toh besok dipakai lagi.

Anda menganggap dia tak peduli, meremehkan hal yang Anda anggap penting. Dia cuek saja, sesekali malah menganggap Anda rewel.

“Bagimu mungkin sepele, bagiku ini penting. Kamu kok nggak bisa ngertiin aku, sih? Kamu memang nggak pernah mau peduli. Minggu lalu juga kamu telat jemput, sampai aku kehujanan. Ingat, nggak, waktu Alif baru dua tahun dan demam tinggi. Kamu cuek saja. Selalu saja nggak peduli” :-(((

Nah nah … urusan sepatu jadi ke mana-mana.

Mending kalau tanggapannya positif,  dan dia langsung lari ke depan dan membereskan sepatunya.

Bagaimana kalau dia jawab begini,  “Aku telat jemput kan karena kerja. Emang aku kerja buat siapa?”

Hasyah, dramatis gagal

Sekarang kita definisikan secara obyektif.
Secara sederhana, sesuatu dianggap penting jika dia terkait dengan agama dan kesehatan.
Saya membatasi diri pada dua hal itu. Jadi selama bukan dosa dan tidak membahayakan kesehatan, saya anggap itu hal yang bisa dibawa kompromi,  bisa dianggap recehan.
Nanti kita akan diskusikan kasus kasusnya dalam kulwap.

Sepatu di depan pintu secara obyektif bukan dosa, tidak bikin pilek 😛
Memang bikin bete, tapi bisa saya abaikan. Jika sempat saya bereskan, jika tidak ya saya abaikan. Tentang lupa mematikan lampu, ketika lewat ruang itu ya saya matikan. Not a big deal.

Saya tidak mau mengumpulkan receh di dalam karung dan memanggulnya ke mana-mana. Rasa berat akan membuat omongan saya ketus, wajah saya kusut. Yang jadi sasaran kekesalan saya bukan hanya pasangan tapi juga anak-anak.

Saya tidak mau rugi dua tiga empat kali.
Saya ngomel, sepatu tetap di depan pintu, saya kesal sampai tak doyan makan (dusta!), dan suasana komunikasi saya dengan pasangan jadi runyam.

Yang selalu saya latih adalah berpikir obyektif.
Matikan lampu ya matikan saja, nggak perlu baper dan ingat masa-masa nyebelin lainnya.

Siapa tahu,  sebenarnya pasangan saya pun menyisihkan banyak recehan yang dia peroleh karena ulah saya 🙂 #tutupmuka

Mari berbagi cerita.

Salam takzim,

Anna Farida
Ternyata materi recehan ini mengundang tanya jawab panjang 🙂 Simak di blog Suci Shofia. Untuk mengikuti kulwapnya, WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

Bersahabat dengan Pasangan

 

Marriage With Heart

Marriage With Heart

Salam sehati, Bapak Ibu

Ini materi kulwap ke-24. Mari kira merumpi tentang pernikahan yang seru.

Ngaku.

Ketika dapat masukan dari Mahmud Admin Suci Shofia bahwa tema kita adalah menjadi sahabat dari pasangan, saya bilang”hayah!”

Sepintas saya berpikir, kan sudah jadi pasangan. Tentu jauh lebih dekat, dong, dari sekadar jadi sahabat. Lahir batin luar dalam, gitu!

Eh, tapi begitu saya berpikir ulang, ada juga pasangan yang ternyata tidak bisa jadi sahabat. Ada juga pasangan yang tidak saling kenal. Ada juga pasangan yang bisa jadi BFF tentu.

Ada rutinitas pengasuhan anak, keperluan rumah tangga, tagihan, keinginan mencari nafkah yang memadai, hingga tekanan pekerjaan membuat pasutri mengabaikan pentingnya menjaga pertemanan—artinya menciptakan hubungan yang lebih santai.  Nah, mari kita cek sedikit saja, bagaimana caranya agar pasangan kita pun bisa jadi teman.

  1. Luangkan waktu untuk berdua saja secara teratur. Kerahkan daya upaya dan taktik strategis untuk mendapatkannya, belain mati-matian—#halahbanget!
  2. Cari tahu tentang kesenangan pasangan. Siapa tahu dia punya hobi baru. Saya tidak suka sepak bola. Saya tidak habis pikir, mengapa satu bola diperebutkan 22 orang hanya untuk ditendang setelah didapatkan. Sayangnya, suami saya suka bola. Demi dia, saya berusaha tahu info bola walau seadanya—dan ketika saya nyeletuk tentang bola biasanya saya salah sebut :-(((

Eh, tapi ketika saya berhasil bilang bahwa baru saya klub anu mencetak gol dan langsung kena balas, suami saya kagum banget. Katanya, “Kok Ibu tahu?”

  1. Cari kegiatan yang sama-sama disukai. Kebetulan, saya dan suami sama-sama sufi alias suka film. Malam Minggu biasa kami isi dengan duduk di depan komputer dan nonton filmstreaming. Nggak modal banget
  2. Jika harus ada konflik, manfaatkan untuk saling terbuka sebagai pribadi, tanpa selalu mengaitkan permasalahan dengan anak, misalnya. Aku capek, aku boleh istirahat sejam, ya. Nanti kita bicara lagi—bukan aku capek. Anak-anak kuurus sendiri, cucian sama aku juga, masak juga—bayangkan jika Anda berbicara pada teman. Ucapan Anda akan lebih sederhana.

Benar, tampaknya sangat mudah. Namun setelah bertahun-tahun menikah, kadang kita kehilangan kemampuan untuk berteman dengan pasangan—sebagaimana dulu, ketika kita tidak terlalu menuntut dia untuk ini dan itu. Sebagaimana dulu, ketika kita bisa dengan mudah memaafkan kekurangannya, karena dia “hanya teman” 🙂

Salam takzim,
Anna Farida

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting With Heart dan Marriage With Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida

Baca juga tanya jawab dan diskusinya di blog Suci Shofia.

Untuk mengikuti kulwapnya, daftarkan nomor WA ke 089650416212 (Suci Shofia), gratis.

Tanya Jawab Keuangan Keluarga

Salam Sehati, Bapak Ibu,
Wah, masuk ke materi-20, tanpa terasa.
Kita akan membahas tentang keuangan keluarga.

Siapa yang sebelum menikah membahas perencanaan keluarga? Atau, siapa yang bahas rencana anggaran sambil bulan madu? 😀

Dalam keluarga, siapa yang seharusnya cari uang? Kalau istri punya penghasilan, bagaimana alokasinya? Digabungkan dengan pendapatan suami atau dipisah?

Kata istri, “Uangmu uangku, uangku uangku sendiri” ehehe.
Kata suami, “Mengapa aku jadi lelaki?” 😥#halah

Sebenarnya, setiap keluarga punya kebijakan keuangan yang unik. Masing-masing punya pilihan tentang penataan anggaran sesuai dengan keperluan. Ada yang suami istri yang memilih bekerja salah satu, ada yang memutuskan untuk bekerja dua-duanya. Ada yang anaknya banyak ada yang hanya satu. Ada yang berkomitmen untuk menanggung keluarga lain ada yang tidak.

Tentang perencanaan keuangan keluarga, yang penting dibahas bukan hanya jumlahnya.

Amount is matter but not that important – weits, kalimatnya bagus buat instagram 😀

Jumlah memang ngaruh, tapi bukan yang paling penting. Salah satu sifat uang adalah banyak tak pernah cukup, sedikit tak selalu kurang (kata AF, ini sih). 😀

Jadi, apa yang lebih penting?

+ Bahas pandangan Anda terhadap uang secara terbuka dengan pasangan. Tanpa membahas siapa yang punya penghasilan lebih banyak, ya. Rezeki itu dari Allah. Dia bisa alirkan lewat siapa suami, istri, anak. Kemestian manusia adalah bekerja dengan giat agar bermartabat dan bermanfaat, kan?

Banyak yang malu-malu, sungkan dianggap matre—apalagi baru nikah, kok sudah bahas duit? Justru, harus dibahas dulu sejak awal agar tahu sama tahu pandangan masing-masing tentang uang dan alokasinya. Misalnya, apakah Anda akan memutuskan hidup sesuai pendapatan (bisa mewah bisa sederhana) atau memang tetap hidup sederhana walau penghasilan melimpah? Bagaimana pandangan Anda tentang kredit: mau nyicil atau nabung dulu agar bisa beli tunai? Daaan sebagainya. Bahas prinsip-nya saja, tak perlu buru-buru bahas detailnya, nanti ribut haha. Tak juga harus selesai satu hari, bisa dibahas dan diselaraskan pelan-pelan. Yang penting ngomong, kecuali Anda berdua punya ilmu kebatinan level 9.

+Tetapkan tujuan. Apa yang ingin Anda dan pasangan raih. Misalnya, lima tahun lagi mau naik haji, keliling dunia, bikin rumah sakit gratis, amin … Miliki tujuan bersama agar masing-masing punya semangat mencari rezeki yang luas dan berkah, bukan hanya buat keluarga tapi juga sesama.

+ Catat anggaran keuangan masing-masing. Apa yang diperlukan suami, istri, anak, dan tanggungan lain. Lakukan secara terbuka dan penuh cinta. Jika Anda punya hobi gelap # halah (misalnya perlu anggaran khusus untuk fotografi) anggarkan sejak awal. Anggarkan juga dana darurat. Ingat, ini bukan masalah jumlahnya, tapi pengaturannya.

+ Catat pemasukan dan pengeluaran. Sekarang banyak aplikasi praktis yang bisa diunduh di telepon pintar. Dari catatan itu Anda akan tahu, mana yang lebih dominan: pengeluaran rutin atau pengeluaran lain-lain hahaha — Anda juga harus catat pemasukan, apalagi jika Anda bekerja tidak dengan gaji tetap. Catatan ini adalah bukti tanggung jawab Anda dan pasangan dan bermanfaat untuk melakukan koreksi jika ada yang tidak beres dengan pengaturan keuangan: adakah yang harus dipangkas, mana yang bisa ditambah, keperluan apa yang sering diabaikan …

+ Anggarkan selalu sedekah—bisa untuk orang lain bisa untuk saudara sendiri. Sedekah memberi semangat kepada Anda untuk berbagi, dan membuat Anda merasa kaya.

Lima saja, ya. Nanti layar hape-nya penuh.

Selebihnya, mari kita saling bertukar pengalaman, bagaimana perencanaan keuangan yang Anda lakukan bersama pasangan.

Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

uchishofia

Image result for keuangan suryanara.org

[13:59, 1/23/2016] Anna Farida: Salam Sehati semuaaaa
Mana suaranyaaa 😀
[13:59, 1/23/2016] Anna Farida:

Tanya 1:

Saya biasa mengatur pengeluaran dan pemasukan dengan suami. Saya sendiri alhamdulillah merasa cukup dengan pemberiannya selama ini. Namun kadang ada campur tangan dari mertua (orangtua suami), yang berpendapat bahwa seharusnya kami sudah memiliki ini, itu, dan ana (eh … bukan ding 😁)
Nah … Bagaimana sebaiknya kami menyikapi hal itu? Saya sih inginnya ya rumah tangga kami biar kami yang urusi. Toh kami tidak pernah mengeluh dan meminta-minta pada orangtua (yang memang berada).
Kami tahu orang tua kami sayang pada kami. Namun, cara mereka kurang sreg di hati.
Saya sudah meminta pada suami untuk bicara baik-baik. Intinya biarkan kami mengurusi rumah tangga kami sendiri. Akan tetapi suami enggan melakukannya. Kalau saya sebagai menantu menyampaikan hal tersebut pada mertua, apakah etis?
Saya sudah memikirkan kalimat (asertif, yg sudah dipelajari) untuk disampaikan pada mertua. Tapi saya masih menahannya…

View original post 881 more words

Tetap Upgrade Setelah Menikah

Marriage With Heart

Marriage With Heart

Ada sebagian perempuan yang merasa dirinya HILANG!

Salam Sehati, Bapak Ibu.

Ini kulwap kita yang ke-31, dan kita akan membahas tema marriage, “Tetap ‘Upgrade’ Setelah Menikah”.

Ada yang salah baca upgrade jadi update? Ehehe, artinya keseringan fesbukan seperti saya.

Konon, khususnya para ibu, setelah menikah ada sebagian yang merasa “kehilangan diri”.

Setelah menikah dan bertetangga, para istri mulai dipanggil dengan nama suaminya. Setelah punya anak dipanggil dengan nama anaknya. Saya dipanggil bu Anwar oleh tetangga dan disebut Mama Qosima oleh para orang tua di sekolah anak saya. Karena itu, saya tetap pakai nama saya di medsos #apaseh

Apakah benar perempuan dan bahkan laki-laki cenderung melupakan kualitas pribadinya karena berumah tangga? Saya tidak akan jawab ya atau tidak, belum sempat cari datanya.

Yang jelas, saya melihat ada pergeseran prioritas. Ada yang sebelumnya hobi naik gunung jadi mengurangi hobinya demi bisa bersama keluarga lebih sering – which is so noble.

Namun demikian, ada juga yang belakangan mengeluh, “Usia produktif saya sudah saya habiskan buat keluarga, sekarang setelah anak-anak dewasa dan tidak butuh saya, tinggal saya yang bengong tidak tahu harus apa.”

Situasi seperti itu jika dibiarkan akan membuat kualitas pernikahan lambat laun merosot—tak heran jika ada pasangan yang memutuskan untuk berpisah setelah dua puluh tahun lebih bersama—Anda bisa baca di Marriage With Heart. Umur boleh tua, tapi jiwa-jiwa yang dipersatukan dalam pernikahan kan bisa tetap awet muda.

Dalam kesempatan lain ada juga yang mengaku, “Setelah menikah rasanya saya kurang wawasan. Apa-apa serba nggak tahu, mau komen omongan orang juga bingung. Apalagi setelah punya anak. Jadi kuper, ah! Seandainya saja …”

Nah, nah!

SETOP (suwer, kata yang baku memang setop).

Berandai-andai sudah tidak laku. Lihat faktanya, Anda sudah menikah, punya tanggung jawab kepada keluarga. Cara terbaik adalah melakukan yang terbaik, termasuk memenuhi hak diri Anda atas upgrade.

Untuk memulainya, kita bisa melakukan beberapa hal sederhana:

+ Pelajari selalu hal baru. Kita bisa melakukannya melalui membaca buku, ikut diskusi yang membahas hal baru, atau mendatangi tempat-tempat baru. Tak perlu ke Argentina juga, kalee. Ke RW sebelah pun cukup. Tapi mau ngapain juga ke RW sebelah, hahaha. Gimana, sih, ini materinya.

+ Catat hal apa yang akan membuat kualitas diri kita meningkat.Masing-masing orang akan berbeda. Bertemanlah dengan orang yang memiliki semangat, temukan hobi baru yang menghasilkan—ini akan memompa rasa percaya diri, lho. Punya hobi yang ngabisin duit sih semua orang bisa, kan?

+ Berbagilah kebaikan. Apa apun bentuknya, membagikan kebaikan kepada orang lain akan membuat penghargaan kita kepada diri sendiri meningkat—bukan jadi ujub dan sombong, ya. Takar-takar saja. Berbagi bukan selalu bagi-bagi duit—saya mau ikut antre kalau Anda melakukannya—berbagi ilmu juga sangat menyenangkan.

+ Libatkan pasangan. Melibatkan bukan selalu harus mengajak pasangan menemani kita kursus menari, misalnya. Katanya mau mengembangkan diri, eeeh, masih rewel minta ditemani 😀

Libatkan dia dengan mengajaknya berdiskusi tentang pilihan kegiatan, membagikan cerita, dan hasil belajar Anda.
Banyak hal yang bisa dilakukan untuk tetap menjadi pribadi yang update. Seseorang yang selalu belajar akan tumbuh menjadi pribadi yang percaya diri.

Orang yang percaya diri akan menjadi pasangan yang baik dan menginspirasi pasangannya untuk menjadi lebih baik juga.

So, mau belajar hal baru apa?

Saya pun sedang belajar dua hal baru. Cobain, deh. Setiap ada pengetahuan atau keterampilan baru, uban Anda akan kembali menghitam satu. Ehehe.

Kulwap ini disponsori oleh buku Parenting with Heart dan Marriage with Heart karya Elia Daryati dan Anna Farida.

Salam takzim,
Anna Farida
http://www.annafarida.com
It always seems impossible until it’s done
(Nelson Mandela)

uchishofia

gambar upgrade ilustrasi: mettahu.wordpress.com

Wa, sudah 31 tema di kulwap (Kuliah via WhatsApp) yang kita bahas. Kali ini tema ugrade diri meski sudah memasuki dunia pernikahan, sesuai usulan dari para peserta. Kalau mau ikutan upgrade diri dengan tema pernikahan dan pengasuhan, silakan kirim nomor WA ke 0986 5041 6212 (Suci Shofia). Selalu bertambah pengetahuan dan wawasan harus dong! Teuteup!

Yuk belajar lagi upgrade diri bareng narasumber kita Anna Farida:

Salam Sehati, Bapak Ibu.

Ini kulwap kita yang ke-31, dan kita akan membahas tema marriage.

Tetap “Upgrade” Setelah Menikah

Ada yang salah baca upgrade jadi update? Ehehe, artinya keseringan fesbukan seperti saya.  🙈

Konon, khususnya para ibu, setelah menikah ada sebagian yang merasa “kehilangan diri”.

Setelah menikah dan bertetangga, para istri mulai dipanggil dengan nama suaminya. Setelah punya anak dipanggil dengan nama anaknya. Saya dipanggil bu Anwar oleh tetangga dan disebut Mama Qosima oleh para orang tua di sekolah anak saya. Karena itu, saya tetap pakai nama saya…

View original post 488 more words

Cuma Tisu

ubit upengApa ini putih-putih?

Saya sedang menjemur baju dan mendapati semua baju bebercak serbuk putih.

Haish! Remukan tisu!

Godaan lewat sepintas, memprovokasi saya supaya jengkel dan berteriak di subuh buntu, “Siapa yang habis nyakuin tisuuu!”

Tunggu dulu. Mengawali hari dengan meributkan hal remeh sungguh membuat saya rugi tiga kali. Rugi empat kali jika tak ada yang mengaku. Rugi lima kali rugi jika ternyata biang masalah itu berasal dari saku baju saya sendiri.

Sambil terus menjemur dan mengibaskan setiap lembar kecil besar, tawa saya pecah tiba-tiba.

Salah satu kebiasaan buruk saya adalah menumpahkan seluruh isi keranjang cucian ke dalam mesin cuci. Emoh banget ngecek satu per satu. Dua kali dompet suami saya jadi korban. Earphone dan USB flash drive tercuci sudah biasa, bahkan sendok pun pernah ikut berperan.

Saat merasa kehilangan sesuatu, suami saya biasa tanya, “Ibu lagi nyuci?” 😀

Sayangnya kebiasaan itu bertahan hingga kini, sungguh tidak terpuji.

Dulu, ketika punya bayi, peristiwa kacau pernah terjadi.

Saat menjemur, saya rasakan ada yang lengket-lengket di jari. Saya perhatikan ada bulir-bulir lembut di semua baju. Bening, seperti agar-agar.

Sambil terus bertanya-tanya ini apa ini apa, saya nekat saja menjemur. Nanti sang bayi keburu bangun, kan.

Tak lama kemudian, kebenaran tersingkap dari balik handuk.

Terlihatlah celana panjang mungil, lengkap dengan gumpalan popok sekali pakai—mungkin Anda menyebutnya diaper atau bahkan pampers, hehe.

Kemungkinan besar itu ulah saya sendiri. Karena buru-buru, baju bayi jadi tercampur dengan baju yang lain.

Jadi butiran kecil-kecil tadi isi pospak. Saya belum pernah tahu seperti apa isinya.

Semua anak saya pakai popok kain, jadi pospak memang tidak begitu saya akrabi. Sesekali saja pakai ketika pergi-pergi.

Ya gitu, deh. Pengetahuan bisa datang dengan cara yang sangat tidak menyenangkan.

Kuesel banget.

Berarti kena najis semua, dong!

Berarti harus disikat semua, dong!

Berarti harus dicuci pakai tangan, dong!

Dengan masygul saya turunkan semua baju yang telah tergantung. Keranjang cucian yang sama jadi terasa tiga kali lebih berat.

Di kamar mandi, setengah hati saya mengalirkan air ke ember dan ambil bangku kecil untuk duduk. Sebel banget! Mungkin saat itu saya merengut sambil nangis, saya pura-pura lupa saja—haha.

Baru baju kedua saya bilas di bawah keran, eh … tangis bayi terdengar nyaring.

Selamat! Ada alasan menunda pekerjaan. Saya tahu, sih, saya juga yang harus membereskannya nanti. Yang penting derita nomor tujuh di dunia ini berakhir dulu.

Jadi, ini kan cuma tisu. Kibaskan dulu sebisanya, kibaskan lagi nanti setelah kering.

Bukan masalah besar. Tak perlu merusak pagi dengan investigasi tersangka. Kata ahli komunikasi favorit saya, tak perlu menghamburkan energi demi kebenaran recehan.

Kebenaran yang prinsipil adalah segera menyelesaikan menjemur dan menulis lagi 🙂

Salam takzim,

Anna Farida