Singa Mati Tulus

Desain cover inilah yang membuat banyak orang begadang, hehe

Desain cover inilah yang membuat banyak orang begadang, hehe... Alhamdulillah akhirnya terbit

Belakangan ini aku sibuk sekali.

Banyak pekerjaan menulis dan editing yang datang bersamaan. Alhamdulillah…

Hebohnya, nyaris semua pekerjaan itu dikawal “singa mati” yang garang.  Ya. Singa mati, alias dead lion–plesetan dari dead line.

Kesibukanku ini membawa komentar yang ajaib dari orang-orang di sekitarku:

Suamiku: “Masih sibuk, Bu? Laptopnya nanti jadi dibawa ke akhirat? Yakin gitu di sana ada wifi?”

Anak sulungku: “Bu… Ah, lupakan! Nanti aja kalau Ibu selesai kerja. Atau, nanti baca pesan Kakak di inbox ya…”

Anak bungsuku: “Mau kelon Ibu. Tapi laptopnya jangan dibawa ke kasur.”

Tetanggaku: “Eh…Bu Anwar. Kirain sedang ke Jawa.”

Temanku: “Gara-gara singa mati-mu itu, aku jadi meng-off-kan facebook-ku.”

Editorku: “Mbak, kalau ASI terus diperah, produksinya berkurang ya? Eh… mana revisinya?”

 

Kemarin aku dapat kabar kalau salah satu bukuku yang tenggatnya mepet sudah terbit. lega sekali. Rasanya senang bisa kembali bercanda dengan tulus bersama keluarga.

Aku tak hendak menyatakan bahwa pekerjaanku membuatku tak tulus. Hanya memang ternyata ketulusan itu perlu energi yang sangat besar. Aku sampai harus berjuang mengandangkan singa mati, baru kemudian memilikinya sepenuhnya.