Payah!

surat luthfa

 

Nemu surat rahasia Luthfa (6 nyaris 7) ke bapaknya:

Bapa… jangan ngomong “payah” ya

soalnya ka ubit yang bikin kayak gitu

ibu juga jadi kerasukan sama ka ubit

jadi… jangan ngomong “payah”

OK?

Jawab, ya

 

Nyengir, deh.

Di rumah, kata “payah” tidak dikehendaki, tapi kadang terucap juga.

Sebenarnya, arti kamus kata ini baik-baik saja: lelah, penat, sulit, sangat berat… namun belakangan mengalami peyorasi. Kita lebih sering mendengar “payah” yang mengandung makna celaan.

Celakanya, apa yang kuajarkan di rumah sering kulanggar sendiri. Kadang tanpa sadar aku berkomentar, “Heuu, payah!” terhadap hal-hal yang tidak kusukai. Ubit (9) juga sering mengucapkannya—entah siapa merasuki siapa.  Yang jelas, kami kini jadi terdakwa.

Saat lidahku lepas kendali, Luthfa selalu menegurku, “Ibu, bilang apa tadi?”

Kujawab, “Oh, maaf. Ibu tidak sengaja.”

Tapi dasar aku, kesalahan yang sama selalu berulang. Rupanya gadis kecil itu berupaya menyelamatkan orang tuanya yang satu lagi agar tidak ikut kerasukan, maka terkirimlah surat di atas.

Saat menemukan dan membacanya aku tertawa, walau sebenarnya malu tak terkira.

Kadang anak-anak itu cerminan orang tuanya, kadang mereka sama sekali bukan bayangan.

Mereka tumbuhkan diri dengan panduan-Nya.