BOSAN DIBAYAR?

Pekerjaanku adalah bermain kata. Setiap hari, deretan kata kutulis dan kubaca demi mencari dan berbagi pengetahuan, memiliki penghasilan, bahkan bersenang-senang dan narsis-narsisan*) di media sosial.

Ketika menerjemahkan buku, aku bukan hanya mengubah kalimat dari bahasa asal ke bahasa sasaran. Agar pembaca nyaman, aku juga harus menerjemahkan makna yang digagas oleh penulisnya. Saat menulis, aku berusaha agar apa yang ingin kusampaikan benar-benar dipahami sekali baca. Tak perlu membuat pembacaku membatin, “Lu mo ngomong apa, sih, Ann?”

Aku juga menyunting buku. Beberapa naskah yang sampai ke tanganku dalam kondisi bagus, hanya perlu sedikit sentuhan, sesuai keinginan penerbit. Sayang, ada pula naskah yang membuat kepala sakit dan bulu mata keriting. Masih ada penulis yang abai dengan naskahnya sendiri, dan berpikir bakal ada editor yang akan membenahinya. Ealaaah!

Jika ada waktu, aku akan membahasnya dengan sang penulis dan memintanya melakukan revisi. Jika waktuku terbatas dan revisi tak membuahkan hasil baik, aku akan langsung mengguntingnya. Dengan gunting kuku, tentunya.

Begitu pula dengan terjemahan. Beberapa karya terjemahan dan bukuku terbit dan beredar di pasar, dan aku masih harus banyak belajar. Aku terus menjaga kepekaan mengolah kata agar mengalir sesuai kaidah bahasa yang benar, sekaligus enak dibaca. Hingga kini, masih banyak kesalahan yang kulakukan, kealpaan yang kuulang.

Alhamdulillah, aku punya banyak mentor murah hati yang bersedia membimbingku, dan sebagian besar kukenal secara online. Terima kasih, terima kasih.

Aku belum lama mulai. Tak ada alasan untuk merasa bisa. Mau mengaku bisa bagaimana, artikel yang kutulis setahun lalu saja membuatku berkali-kali gigit jari. Jadi kayak gini, ya, tulisanku dulu? Aduh!

Tidak bisa dibiarkan. Kualitas tulisan, terjemahan, dan suntinganku harus baik. Aku ingin pembaca selalu senang membaca karyaku. Penerbit dan klien puas dengan hasil kerjaku. Dengan demikian, mereka akan membeli bukuku, dan terus memakai jasaku. Jelas, ini berdampak pada penghasilanku. Fyuhh … akhirnya bisa mengaku. Deepest reason-nya keluar juga.

Ini dia yang sebenarnya ingin kusampaikan. Berputar-putar dulu, karena sebenarnya aku sungkan.

Ummm …Bagaimana, ya?

Begini … kadang aku bosan bekerja.

Maksudku, bermain kata demi uang tentu menyenangkan. Tak ada pekerjaan yang lebih kuinginkan dari itu. Aku bisa bekerja di rumah, mengasuh anak-anak, tetap berkarya, dan punya penghasilan. Aku juga bersyukur bisa belajar di bidang literer yang masih dianggap prestisius oleh sebagian orang, sekaligus menjanjikan dari segi finansial. Ehm, kusebut menjanjikan karena menghasilkan buku bagus sekaligus diterima pasar bukan perkara mudah.

Hingga kini, aku masih berjuang dengan ratusan halaman naskah setiap bulan. Setiap karakter, kata, dan lembarnya bernilai rupiah.

Kian banyak pekerjaan kuselesaikan dengan baik, kian lancar penghasilan mengalir.

Namun demikian, kadang ceritanya tak seindah status Facebook yang jaim. Ketika pekerjaan masih banyak, sementara tenggat mulai mendekat. Rencana kerjaku sesekali bergeser. Kadang ada naskah yang kupikir sudah selesai, ternyata harus direvisi. Atau, ada penerbit yang mendadak minta agar pengerjaan naskah dipercepat karena suatu hal. Atau, aku memang sedang kurang bersemangat, sehingga kecepatanku menurun.

Dalam situasi seperti itu, pekerjaan yang kucintai ini rasanya melelahkan. Aku seperti pengantin baru yang sedang bertengkar. Kesal setengah mati, tapi rindu tak tertahankan. Ingin sekali baikan, tapi tak tahu harus berbuat apa. Singkat kata, aku mati gaya.

Tentu akibatnya signifikan.

Kalimatku jadi beku. Apa pun yang kutulis segera kuhapus lagi. Aku gamang saat melirik jumlah halaman yang masih harus kukerjakan. Saat mengetik, jariku sering terpeleset. Aku jadi mudah mengantuk dan lebih banyak ngemil di depan monitor. Lebih banyak mengklik Facebook dan Twitter daripada kamus online. Leherku sering pegal, kakiku mendadak gatal.

Aduh, jangan-jangan ini gejala depresi. Halah!

Berhenti?

Tak mungkin. Aku cinta bidang ini. Tapi aku capek. Siapa bilang mengerjakan sesuatu yang kita sukai itu tidak mengenal kata bosan?

Karenanya, aku mesti cari kegiatan selingan.

Apa, ya?

Arung jeram atau panjat dinding tak punya nyali. Memasak atau menjahit aku tak pintar. Ke mall aku tak suka—karena mengacam arus kas, hehe …

Akhirnya, pilihanku tetap menulis, tapi dengan tujuan dan gaya yang sama sekali berbeda. Bukan di buku harian, karena aku tetap ingin tulisanku dibaca orang lain. Lagi-lagi narsisme!

Maka mulailah aku ngeblog.

Di sana, aku bisa menulis apa pun, dengan gaya apa pun. Kadang serius, kadang sambil cengengesan. Ini yang tak bisa kulakukan ketika menyunting atau menerjemahkan naskah ilmiah.

Kuisi blog dengan ocehan, monolog, cerita sehari-hari, dan kontemplasi. Kuceritakan dunia kerjaku, sambil sesekali numpang eksis. Kupamerkan buku-bukuku—untuk promosi, dan memanjakan diri sejenak dengan satu dua pujian yang singgah di kotak komentar. Bagi penulis pemula sepertiku, apresiasi dari pembaca ternyata menghangatkan hati.

Oh, ya. Selain menulis, aku juga sesekali menjadi guru tamu. Aku senang mencoba berbagai metode mengajar yang unik, dan menuliskan pengalamanku di blog. Beberapa tulisanku mengundang pertanyaan pembaca, dan aku menjawabnya dengan senang hati.

Ada beberapa guru yang setia menunggu tulisan di blog pendidikan yang kubuat. Teman-teman juga mengaku senang membaca kisah-kisahku. Aku pun jadi punya catatan—walau tak beraturan—tentang tingkah anak-anakku, juga pandanganku tentang aneka peristiwa. Sedikit banyak, tulisan itu jadi bahan kontemplasiku.

Mendesain blog agar tampil segar, informatif, dan nyaman dibaca juga menantang. Berbekal tutorial yang bertebaran di berbagai situs, aku bisa seharian bongkar pasang widget-nya. Walau mengandalkan template gratis yang serba otomatis, begitu tampilan blog berubah sesuai pilihanku, aku merasa jadi webmaster jenius, haha ….

Berikutnya, setelah beberapa tulisan kupublikasikan, aku mulai memetik buahnya. Perasaan segar dan lega jadi lebih mudah hadir. Lambat laun aku sadar bahwa yang membuatku tersenyum bukan sekadar kebebasan menulis di blog. Aku juga merasa bahagia karena bisa berbagi.

Bekerja dan berbagi. Dibayar dan gratis. Itu bedanya.

Di awal sudah kusampaikan, bahwa aku mencintai pekerjaanku, melakukannya dengan sepenuh hati, dan menyukai bayarannya, ehm!

Setelah bertemu blog, aku punya tempat “melarikan diri” ketika sedang bosan. Selalu ada dorongan untuk tetap ringan hati menulis, walau tanpa honor. Aku punya keyakinan, kian banyak memberi, kian banyak pula yang kita miliki. Hati jadi lapang, dan energi berkaryaku selalu seimbang, antara bekerja dan berbagi.

Sungguh, rasanya nyaman sekali.

*) Catatan:

#KBBI

narsisme /nar·sis·me/ n 1 hal (keadaan) mencintai diri sendiri secara berlebihan; 2 hal (keadaan) mempunyai kecenderungan (ke inginan) seksual dng diri sendiri

narsis /nar·sis/ n 1 tumbuhan berbunga putih, krem, atau kuning, terdapat di daerah subtropis; Amarylidaceae; 2 bunga narsis

Narsis:
Suatu gaya atau sikap yang berlebihan, terlalu membanggakan diri sendiri sehingga menjadi norak
bagi orang lain (Kamus Slang Bahasa Indonesia 2012)

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s