JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-2: MAROS

ali bantimurungKami mendarat di Makassar saat matahari mulai naik.

Begitu turun pesawat dan melihat jam dinding di bandara, gadis kecil saya bergumam, “Ternyata benar, ya, beda satu jam dengan jam tangan Upeng.”

Perbedaan zona waktu yang sebelumnya hanya jadi bahan cerita dia buktikan sendiri. Dia periksa semua hape, dia cocokkan waktunya dan kecewa.

“Kok sudah sama?”

“Kan telepon pintar, Peng. Jadi otomatis berubah,” sahut kakaknya.

Rupanya kali ini otomatisasi membuat gadis kecil saya tidak berkenan. Tidak seru, masa hanya jam tangannya yang beda.

 

Kabar baiknya, kami dapat pinjaman mobil dari teman lama. Dia pemilik kapal penangkap ikan dan kami akan mengambil mobil itu ke rumahnya pakai taksi. Tadinya mau pakai bus, tapi harganya nyaris sama, jadi taksi saja.

Sopirnya sudah tua, dan sepanjang jalan dia menceramahi kami tentang pentingnya merayakan Idulfitri sesuai dengan ketentuan pemerintah. Di lingkungannya ada perbedaan penetapan hari dan dia tidak suka. Suami saya yang ada di sebelahnya hanya bilang “iyye, iyye” tanpa bisa menyela.

Kami semua diam dan patuh, seperti sedang dimarahi oleh guru ngaji, haha.

Untung, kecepatannya berbicara berbanding lurus dengan ketangkasannya mengemudi. Caranya berbelok di jalan tol yang menikung membuat saya beberapa kali saling pandang dengan anak-anak. Top, dah!

 

Kami dapat pinjaman mobil yang besar, leluasa untuk enam orang. Terima kasih banget, Om Ari! Semoga kapalnya selalu dapat tangkapan yang banyak dan berkah.

Karena mobil harus dicuci dulu, kami putar-putar kota sejenak. Sebuah bangunan tinggi, kebiruan, dengan tulisan “Fajar” segera menarik perhatian saya. Itu gedung pertama yang saya potret dan saya tayangkan di media sosial.

Komentar anak-anak menyadarkan saya bahwa kita cenderung lebih cepat melihat sesuatu yang dekat dengan keseharian kita.

Jika saya dokter, mungkin gedung rumah sakit yang cepat tertangkap oleh penglihatan. Jika saya hobi nge-mall, mungkin pusat perbelanjaanlah yang lebih tampak. Bukan kebetulan juga, ternyata, beberapa hari ke depan, saya akan masuk gedung kebiruan itu dan bertemu banyak perempuan hebat. Nantikan ceritanya.

Kembali ke acara cuci mobil.

Setelah lama mencari sambil pasrah karena ini Lebaran hari kedua, kami nemu juga tempat pencucian mobil di sisi jalan. Antrean yang panjang membuat kami ciut, tapi tak ada pilihan. Syukurlah ada warung di dekat situ, jadi kami bisa makan dan numpang duduk hingga tuntas prosesi pencucian (atau penyucian, hayo? #IngatEBI #IngatEYD).

Acara ini jadi penting dibahas karena beberapa menit pertama di belakang setir, Bapak diam saja.

Sebagai orang yang sangat mengenalnya, saya tahu harus tanya apa, “Berapa barusan, Pak?”

“200 ribu.”

Hah! Pantesss, dia dongkol. Kena tekuk rupanya. Pelanggan lain kesal juga, katanya. Tapi sudah, lah ya. Perjalanan masih panjang, dan kami perlu suasana gembira. Tugas saya adalah segera mengalihkan pembicaraan, apalagi kami harus menghadang macet menuju Maros.

Syukurlah bukit-bukit kapur yang menjulang di kanan kiri jalan membuat kami jadi punya topik diskusi yang seru, sesekali ditingkahi omelan Bapak tentang pabrik semen yang tak henti mengeruk dan merusak kawasan karst di sana.

 

Obrolan tentang eksploitasi bukit kapur berlanjut di rumah tante dan om yang kami singgahi, tapi tampaknya anak-anak lebih peduli pada buras dan semur daging bebek yang gurih. Fyi, buras adalah lontong nasi yang sangat lezat karena diolah dengan santan, salah satu makanan khas Sulawesi Selatan. Full kalori, pokoknya!

IMG_20170626_172726Dengan perut kenyang kami melaju ke Taman Nasional Bantimurung Bulusaraung, lokasi penangkaran kupu-kupu yang terkenal itu. Sayang cuaca mendung dan hujan rintik mengikuti kami, jadi kupu-kupu yang kami sambangi lebih memilih bersembunyi di balik dedaunan.

 

Tak apa. Kami memutuskan untuk menjajal wahana baru, Helena Sky Bridge. Dengan susah payah kami (lebih tepatnya saya, hehe) memanjat menara setinggi 20-an meter. Sama sekali tidak ramah untuk bobot saya yang tidak ringan, duh!

Menara kembar ini dihubungkan oleh jembatan gantung, membentang 50-an meter di atas lokasi penangkaran. Lebar jembatannya kurang dari satu meter dan segera bergoyang jika diinjak.

Glek!

Tenang, sambil melintas, kami semua diikat oleh tali pengaman yang kokoh. Ada rasa takut, tapi berhubung di bawah jembatan adalah hutan tebal, dan di sekeliling saya ada bukit menghijau, pesonanya sungguh menenangkan.

Jadi kami melangkah perlahan, sambil mencengkeram tali pengaman, sambil foto-foto. Teuteup!

Belum lagi Ali, si remaja, berjalan mendahului saya dan beberapa kali minta difoto dari belakang. Dia tidak tahu betapa emaknya harus baca-baca doa menguatkan hati saat melepaskan pegangan demi menghasilkan gambar yang dia kehendaki #huhah.

Akhirnya semua berhasil melintasi Jembatan Helena, hanya si bungsu Upeng yang terlihat cemas, tapi segera lega begitu sampai ujung.

 

Setelah turun menara dengan perjuangan yang lebih menantang—kesulitan ini buat saya saja karena anak-anak segera meluncur tanpa kendala—kami menyusuri hutan kecil dengan bebatuan yang nyaman diinjak. Tekstur batuan yang bergelombang membuat langkah kokoh, walau medannya naik turun bergantian. Hujan pun tak membuatnya licin, kecuali saya salah injak bagian tanah yang berlumut—fokus, fokus. Banyak orang, malu kalau jatuh 😀

Ada dinding kapur dengan ceruk yang tak begitu besar, tapi anak-anak bisa mengamati stalaktit, stalagmit, dan lumut yang unik.

“Lumutnya panjang-panjang seperti rumput sintetis,” kata mereka.

 

Hijaunya pohon dan semak benar-benar memanjakan mata, aroma lembapnya menyegarkan. Kebersihan taman pun lumayan terjaga, tak banyak sampah plastik walau tempat sampah terletak pada titik-titik yang berjauhan.

Kami terus berjalan dan berpikir mendung masih menemani.

Ternyata, begitu keluar dari kerimbunan, matahari bersinar cukup terang. Suasana gelap tadi tercipta tak lain karena kami berada di bawah naungan pepohonan tebal. Rasa hangat ikut menjalari hati saya, manusia kota yang baru masuk hutan setelah sekian lama. Norak gitu, deh. Biarin.

Terima kasih, Bantimurung.

Bersambung.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s