JELAJAH SULAWESI SELATAN BAGIAN-3: BONE

WhatsApp Image 2017-07-06 at 2.03.20 PM

Foto oleh Ali Anvari, pakai hape dari dalam mobil yang melaju 70 km/jam. 

Maros kami tinggalkan bakda isya. Artinya, perjalanan menuju Bone dengan jalanan berkelok yang membahana itu akan kami lalui malam-malam.

Kabar yang selama ini saya dengar terbukti benar. Menuju Bone, lebih dari 150 km dengan waktu tempuh 3.5 jam, rasanya tidak ada jalan lurus. Semua belok kanan, belok kiri, menanjak, menurun, melingkar. Jaga jarak di setiap tikungan juga harus penuh perhitungan karena kendaraan dari arah depan kadang tidak terlihat. Banting setir sama sekali bukan pilihan, karena kanan bukit batu kiri jurang, atau sebaliknya—kiri bukit batu kanan jurang.

 

Digoyang berulang membuat Si Bungsu Upeng mabuk dan harus dihibur-hibur sampai tertidur—behind the scene: saya juga ikut tidur #tutupmuka. Mobil terus melaju, tak mungkin istirahat lama-lama karena keluarga di Bone sudah menunggu sejak sore.

Benar, saja. Di mulut gang kampung, om dan beberapa sepupu sudah menunggu. Upeng langsung meluncur mencari Tante Ina yang pernah mengasuhnya sejak bayi hingga enam tahun. Ali jadi sasaran towel dan cubit para nenek, karena saat ke Bone sebelumnya, dia baru 4 tahun.

 

Kami naik rumah panggung yang hangat. Di beranda rumah kayu itu sepupu dan keponakan laki-laki berkumpul menyalami kami. Begitu masuk, belasan kerabat perempuan: dari nenek sampai bayi menyerbu kami dengan berbagai pertanyaan. Sesekali lengan saya yang besar mereka usap-usap. Anak-anak kecil menatap kami sambil bisik-bisik, senyum dan sapaan saya mereka balas sambil malu-malu.

Setelah pertanyaan mereda, kami makan. Ayam lengkuas khas Bugis, balado ikan yang segar, tersaji dengan buras dan sokko tumbu—buras itu lontong beras, sokko tumbu lontong ketan. Aduh, gurih dan lembut. Bubarlah semua diet nonkarbo saya ahaha.

 

Keesokan harinya kami beramai-ramai berziarah ke makam Babba, ayah mertua saya. Di kampung saya di Boyolali, bunga yang ditaburkan di atas makam biasanya mawar dengan sedikit kenanga dan melati. Di Bone, bunga ziarahnya berupa irisan daun pandan dan sedikit bunga lain—mungkin bunga soka.

Para om menjelaskan kepada anak-anak, siapa saja yang dimakamkan di sana dan terbukti bahwa 90% lebih penduduk kampung ini masih bersaudara. Kami lebih banyak diam di sana, merapal doa.

Di antara senggolan dan candaan, anak-anak belajar tentang silsilah keluarga, dan menyapa kematian yang bisa datang kapan pun.

 

Selanjutnya keliling.

Beberapa kerabat yang tinggal di desa lain kami kunjungi beramai-ramai, dua mobil dan banyak sepeda motor.

Matahari sudah tinggi, udara gerah sekali. Welcome to the real Bone. Bahkan penduduk asli yang lahir dan tumbuh di sini pun kepanasan, bayi-bayi berkaus singlet bertebaran 😀

Karenanya, hidangan lebaran yang paling kami nantikan adalah es sirop dingin!

Saya sudah berpesan ke anak-anak sejak awal saat sarapan, “Jangan makan banyak. Kita akan keliling dan pasti dikasih makan.”

 

Proved!

Di rumah pertama hingga ketiga, es sirop disambut penuh antusias. Tawaran makan disambut dengan gembira. Saya sudah ancang-ancang, tahan diri … tahan diri … masih ada sekian rumah lagi. Tak santun menolak makan dengan alasan sudah kenyang. Ini kan hari Lebaran.

Di rumah keempat, kami sudah saling berbagi gelas dan piring. Mana sanggup makan dan minum sendirian. Di rumah kedelapan, kami tertawa begitu es sirop dihidangkan. Bukan hanya perut, punggung dan lutut pun rasanya ikut penuh.

 

Yang juga unik bagi anak-anak, hampir sepanjang hari yang terdengar  adalah bahasa Bugis. Intonasinya turun naik seperti musik.

“Begini juga kayaknya kalau kita pergi ke Turki. Bahasa Inggris kalian tidak laku,” seloroh saya.

OOT: Nama negara itu di ujung lidah karena buku yang sedang saya baca adalah Finding Rumi, kisah perjalanan Najmar, peneliti perempuan, ke Turki.

 

Kami pulang silaturahmi dalam keadaan kekenyangan. Di antara makanan baru yang saya cicipi, yang jadi juara tetap barongko—pisang dilumatkan, dibubuhi gula, santan, dan telur, dibungkus daun pisang dan dikukus. Saat dihidangkan dingin, awww … hilanglah semua gerah.

Sebelum benar-benar pulang, saya ajak anak-anak singgah ke kuburan China di dekat rumah. Mereka bandingkan nisannya dengan nisan Bugis, cara penulisan nama-namanya, dan kisah-kisah yang mengiringinya. Kuburan ini sudah lama menjadi bagian hidup penduduk di sana.

“Saat masih kecil, Bapak dan teman-teman selalu dapat buah dan kue-kue saat ada acara pemakaman. Sebagian dikasih oleh keluarga yang sedang berkabung, sebagian lagi dapat dari mencuri dari sesaji.”

What!

Saat kecil, saya juga beberapa kali mencuri pisang dari sesaji wiwit saat Mbah Kakung mengawali tanam padi. Rupanya kami memang berjodoh haha.

 

Perjalanan di Bone kami tutup dengan membakar kalori, jalan-jalan malam ke Lapangan Merdeka. Alun-alun dengan air mancur aneka warna ini jadi tempat hiburan murah meriah bagi warga. Di Bandung, mana mau anak-anak foto-foto di Lapangan Gasibu. Di sini, kami foto melulu ahaha. Suasananya riuh, kegembiraan anak-anak kecil berlarian bermain ketapel berlampu membuat udara berkelap-kelip.

 

Tibalah saat berangkat menuju destinasi berikutnya: Palopo.

Dilepas dengan pelukan dan mata berkaca-kaca, kami berpamitan. Dalam perjalanan saya menyaksikan rumah-rumah panggung khas Bugis berderet. Ada juga yang atapnya bersusun tiga, khusus untuk rumah bangsawan.  Bagian atas dihuni keluarga, bagian bawahnya biasanya buat jemuran, kandang binatang, atau garasi dan gudang.

Di sebuah wilayah, Ali mengambil gambar kampung yang terendam air. Banjir datang setiap kali air sungai meluap, tapi penduduk tetap tenang dengan desain rumah panggung yang aman. Sampan-sampan kecil terikat di tiang rumah, karena luapan air adalah bagian dari keseharian.

“Mungkin tidak, ya, Bandung Selatan mengadopsi desain rumah ini untuk wilayah yang berlangganan banjir?” tanya saya ke suami dan anak-anak.

 

Terima kasih, Bone yang penuh kehangatan kasih dan inspirasi.

Bersambung.

 

Advertisements
This entry was posted in Uncategorized. Bookmark the permalink.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s